Misalnya, membeli perlengkapan kerja yang sudah rusak merupakan kebutuhan. Sebaliknya, membeli pakaian baru hanya karena sedang tren, padahal pakaian di rumah masih cukup, dapat ditunda.
Sebelum melakukan pembayaran, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan, apakah sudah memiliki barang serupa, dan apakah pembelian itu sesuai dengan anggaran.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian yang tidak direncanakan.
3. Jangan Mudah Tergiur Diskon dan Gratis Ongkir
Promo diskon, cashback, voucher, dan gratis ongkos kirim sering menjadi daya tarik utama dalam belanja online. Namun, penawaran tersebut tidak selalu berarti konsumen menghemat uang.
Sebagai contoh, membeli barang yang tidak diperlukan seharga Rp100.000 dengan diskon 30 persen tetap membuat konsumen mengeluarkan Rp70.000 untuk sesuatu yang mungkin tidak dibutuhkan.
Karena itu, hitung pengeluaran berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata besarnya potongan harga.
Konsumen juga perlu memeriksa harga akhir, termasuk ongkos kirim dan biaya tambahan lainnya, sebelum menyelesaikan transaksi.
4. Bandingkan Harga dan Periksa Reputasi Penjual
Sebelum membeli barang, luangkan waktu untuk membandingkan harga dari beberapa toko. Perhatikan pula kualitas produk, spesifikasi, ulasan pembeli, dan reputasi penjual.
Harga yang jauh lebih murah dibandingkan produk sejenis patut diperiksa lebih lanjut. Jangan sampai keinginan mendapatkan barang dengan harga rendah justru berujung pada kerugian karena produk tidak sesuai deskripsi atau barang tidak dikirim.
Kementerian Perdagangan mengimbau konsumen agar memeriksa informasi produk, membandingkan harga dan kualitas, serta memastikan kredibilitas pelaku usaha sebelum bertransaksi.









