Pasang Social Creative Gelar Sound of Struggle Vol. 1, Angkat Perjuangan Musik Tiga Generasi

Para narasumber berbagi pengalaman lintas generasi dalam acara Sound of Struggle Vol. 1 #Nyongsong yang digelar Pasang Social Creative Movement di Lapangan Basket Kuala Tungkal. Foto: Eka

SIDAKPOST.ID, TANJABBAR – Denyut kreatif di kota pesisir Kuala Tungkal kembali bergaung. Dalam upaya merangkai narasi musik daerah lintas waktu, Pasang Social Creative Movement sukses menggelar Sound of Struggle Vol. 1 bertajuk #Nyongsong, pada Minggu (26/10/2025), di Lapangan Basket Kuala Tungkal.

Talk show ini mempertemukan tiga generasi musisi dengan tema “Perjuangan Bermusik di Kuala Tungkal dari Tiga Era.” Tiga narasumber ikonik hadir berbagi pengalaman: Wak Nasir (WN), vokalis yang mewakili generasi analog 1970–1990-an; Kak Nay (KN), gitaris dari era transisi 1990-an menuju digital; serta Oca, vokalis muda generasi Z yang tumbuh dalam ekosistem musik modern.

Sesi dibuka dengan kisah nostalgia dari Wak Nasir yang menggambarkan sulitnya mengakses musik di masa lalu. “Dulu, nyari lagu itu betul-betul perjuangan. Kami nunggu kaset baru sebulan sekali, bahkan harus rekam dari TV pakai tape,” kenangnya. Ia menuturkan bahwa keterbatasan alat dan media kala itu justru memicu ketekunan serta kreativitas, hingga para musisi kerap membuat sendiri alat musik mereka.

Baca Juga :  Sekda Tanjabbar Lakukan Rapat Persiapan Festival Arakan Sahur

Kak Nay kemudian melanjutkan, menggambarkan era 1990-an hingga awal 2000-an sebagai masa transisi yang diwarnai peralihan dari kaset ke format digital, serta munculnya fenomena pembajakan. Namun semangat bermusik, katanya, tetap tak berubah. “Semangatnya tetap sama: haus akan musik baru,” ujarnya.

Sementara itu, Oca menilai era digital memberi ruang kebebasan berekspresi yang lebih luas, namun menghadirkan tantangan baru berupa adaptasi terhadap perubahan cepat dan dinamika platform daring. “Sekarang lebih bebas… Tapi tantangannya adalah mengikuti algoritma dan tren,” ujar Oca.

Meski menghadapi tantangan berbeda, ketiganya sepakat bahwa semangat berjuang dan berproses adalah hal yang tak lekang oleh waktu. Jika dahulu musisi harus melawan keterbatasan materi, kini mereka ditantang untuk beradaptasi dengan teknologi. Oca menegaskan bahwa tantangan generasi kini adalah “kesadaran untuk terus berproses,” sementara Kak Nay menambahkan bahwa kunci utama tetap pada disiplin dan tanggung jawab bermusik.

Ketiga narasumber juga berbagi kisah panggung yang penuh emosi: Wak Nasir mengenang perjalanannya merantau ke Riau dan Tembilahan; Kak Nay bercerita tentang pengalaman menghafal sebelas lagu selama perjalanan menuju Sarolangun; sedangkan Oca mengenang momen saat dimarahi ketika tampil di ospek kampus — pengalaman yang kemudian menjadi pelajaran berharga tentang keteguhan hati.

Baca Juga :  Bupati Tanjab Barat Terima Kedatangan Kepala Kemenkumham Wilayah Jambi

Menanggapi masukan dari audiens, khususnya para pelajar, terkait minimnya ruang dan fasilitas bagi musisi muda, Kak Nay memberikan pesan tegas: “Kalau belum punya wadah, ciptakan wadahmu sendiri. Mulai dari latihan, dari panggung kecil, dari kafe mana pun.”

Pernyataan itu sejalan dengan filosofi Pasang Social Creative Movement, yang berarti gelombang naik pembawa perubahan — simbol semangat untuk terus mengalirkan kreativitas dan membuka ruang ekspresi bagi pelaku seni di Kuala Tungkal.

Melalui Sound of Struggle Vol. 1 #Nyongsong, diharapkan langkah awal ini dapat menjadi jembatan sejarah musik Kuala Tungkal lintas generasi, memastikan bahwa dari kaset hingga YouTube, semangat bermusik tetap menyala: berjuang, berproses, dan berbagi pesan melalui nada. (Err)