Ia berharap, kehadiran bidang ekonomi dapat memperkuat kontribusi pemikiran NU dalam membaca persoalan ekonomi sekaligus memberikan masukan yang bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah.
“Supaya juga NU terus memberikan kontribusi terhadap evaluasi perkembangan ekonomi bangsa yang ya mungkin kita evaluasi selama ini sedikit sekali pandangan-pandangan dari NU terhadap perkembangan ekonomi bangsa kita,” katanya.
Lebih lanjut, Lukman mengingatkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dievaluasi dalam rentang waktu tahunan. Perubahan situasi dapat memunculkan persoalan baru yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
Menurutnya, isu ekonomi bisa berkembang dalam hitungan enam bulan, tiga bulan, bahkan setiap bulan. Karena itu, kajian yang berkelanjutan dinilai penting agar NU dapat memberikan pandangan yang relevan terhadap kondisi terkini.
“Padahal ini adalah isu-isu yang terus bergulir bahkan bukan hanya per tahun per per enam bulan per tiga bulan bahkan per bulan pun akan ada isu-isu ekonomi yang perlu ditanggapi secara serius oleh bangsa,” ungkapnya.
Badan Usaha NU Ditargetkan Beri Dividen
Selain memperkuat fungsi kajian dan penelitian, PBNU juga memberikan perhatian terhadap pengembangan badan usaha milik organisasi.
Lukman menjelaskan, badan usaha NU memiliki tugas berbeda dari bidang ekonomi yang berfokus pada riset dan rekomendasi. Badan usaha diarahkan untuk menghimpun serta mengonsolidasikan pengusaha NU, menjalankan proyek ekonomi, dan membuka peluang kerja bagi warga Nahdliyin.
Tidak hanya itu, badan usaha milik NU juga ditargetkan mampu menghasilkan keuntungan dan memberikan dividen kepada PBNU. Menurut Lukman, kewajiban tersebut harus disepakati sejak awal agar pengelolaan usaha memiliki arah dan tanggung jawab yang jelas.









