Istiqlal Jadi Titik Temu 40 Imam Besar Dunia, Pesan Perdamaian Menggema

Imam besar dari berbagai negara tengah berdoa bersama di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (25/9/2026). Foto: NU Online

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Sekitar 40 imam besar dari berbagai negara berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari Konferensi Internasional Imam Besar (IGIC) 2026 yang membahas peran agama dalam membangun perdamaian dunia.

Para imam besar yang hadir berasal dari sejumlah kawasan, di antaranya Timur Tengah, Eropa, Amerika, Amerika Latin dan Asia. Di antara tokoh yang hadir terdapat Imam Besar Masjid Al Aqsa Palestina, Sheikh Muhammad Ahmad Muhammad Hussein, serta Sekretaris Jenderal Dewan Ulama Senior Al Azhar, Prof Abbas Shouman.

Dilansir Sidakpost.id dari NU Online, konferensi tersebut mengangkat pembahasan mengenai diplomasi keagamaan, peran masjid sebagai ruang membangun harmoni, serta upaya memperkuat perdamaian dan kemanusiaan. Sebelumnya, panitia menyebut IGIC 2026 diikuti delegasi dari puluhan negara.

Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengatakan pertemuan para imam besar dari berbagai negara merupakan momentum penting bagi Indonesia.

“Ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ini adalah pertama kalinya kita mengumpulkan seluruh imam-imam besar dari Timur Tengah, dari Eropa, dari Amerika, dari Amerika Latin, dari Asia,” kata Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga :  Peran Bulan Ramadhan dalam Memperkuat Solidaritas Umat Islam

Menurut Nasaruddin, tokoh agama mempunyai peran dalam menyampaikan pesan perdamaian karena pendekatan keagamaan dinilai dapat menyentuh kesadaran batin masyarakat.

Ia menekankan bahwa perbedaan agama, etnis maupun kewarganegaraan tidak menghilangkan kesamaan manusia sebagai sesama makhluk yang memiliki rasa kemanusiaan.

“Kita sangat yakin bahwa kemanusiaan itu hanya satu, humanity is only one. Apa pun agamanya, apa pun etniknya, apa pun warga negaranya, hati dasar setiap insan itu adalah satu,” ujarnya.

Nasaruddin juga menilai upaya penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi formal. Menurutnya, pendekatan yang menyentuh hati nurani perlu menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian.

“Diplomasi formal ternyata tidak banyak berhasil untuk meredam konflik. Mari kita mencoba jalur lain, bagaimana menyentuh hati nurani setiap insan-insan di muka bumi ini,” katanya.

Ia kemudian mengajak para pemimpin agama menjadikan kesamaan sebagai manusia sebagai salah satu titik temu dalam menghadapi berbagai persoalan dan konflik.

Baca Juga :  Iman Naik dan Turun, Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

“Kita sama-sama anak cucu Adam. Kita sama-sama anak manusia, pasti punya rasa yang sama. Mari mempertemukan hati nurani untuk menyelesaikan konflik yang ada di antara kita,” ujar Nasaruddin.

Selain persoalan perdamaian, isu lingkungan juga menjadi perhatian. Nasaruddin mendorong agar pesan agama turut digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam.

“Kerusakan alam sudah masuk pada ambang yang sangat membahayakan sekarang ini,” katanya.

Menurut dia, terciptanya kehidupan yang damai juga berkaitan dengan kemampuan manusia menjaga lingkungan. Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan.

“Jika kita ingin hidup damai di muka bumi ini, persyaratannya adalah kita harus merawat dan memelihara alam,” ujar Nasaruddin.

Melalui pertemuan tersebut, para imam besar diharapkan dapat membawa pesan mengenai perdamaian, kemanusiaan dan kepedulian lingkungan ke masyarakat di negara masing-masing.

“Di sinilah peranan penting hari ini kita berkumpul, bagaimana menggunakan bahasa agama untuk membangkitkan kesadaran kemanusiaan pada kita semuanya,” tandasnya. (sum)