Selain kegiatan Daurah Ilmiyah, pihak dayah juga menggelar pelatihan khusus bagi santri senior untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan mereka dalam mengembangkan dakwah melalui media digital.
Melalui kegiatan tersebut, para santri diharapkan mampu memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan kecakapan teknologi sehingga dapat berkontribusi dalam memperkuat literasi keagamaan masyarakat.
Gus Ajir menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus tetap diimbangi dengan pemahaman agama yang benar agar konten dakwah tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga bermanfaat.
“Penguasaan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan substansi keilmuan. Konten yang menarik secara visual belum tentu membawa manfaat apabila tidak didukung materi yang benar. Sebaliknya, pesan keagamaan yang baik perlu dikemas secara komunikatif agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda,” paparnya.
Sementara itu, Abi MUDI berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran santri dalam menyebarkan ajaran Islam yang menyejukkan sekaligus menjaga tradisi Aswaja di tengah perkembangan teknologi.
“Melalui Daurah Ilmiyah ‘Nalar Aswaja di Abad Digital’, santri diharapkan mampu memadukan tradisi keilmuan dayah dengan kecakapan digital. Dengan bekal ilmu, akhlak, dan kemampuan mengelola media, mereka dapat mengambil peran lebih luas dalam menyebarkan pesan Islam yang menyejukkan, memperkuat literasi keagamaan, serta menjaga tradisi Aswaja di tengah perubahan zaman,” ungkapnya. (sum)









