Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengingatkan tiga persoalan yang perlu diwaspadai dalam tradisi keilmuan Islam, yakni tahrifal ghalin atau penyimpangan oleh pihak yang melampaui batas, intihalal mubtilin atau upaya memalsukan kebenaran, serta ta’wilal jahilin atau penafsiran yang muncul akibat kurangnya pengetahuan.
Selain menjaga ketepatan informasi, santri juga didorong menerapkan prinsip al-hanifiyatus samhah, yaitu menyampaikan ajaran Islam secara lurus, santun, dan penuh kelapangan tanpa meninggalkan prinsip agama.
Untuk mendukung dakwah di era digital, Gus Ajir mengajak santri meningkatkan keterampilan menulis, membuat video, menyusun materi pendidikan Islam, hingga mempelajari teknik penyuntingan konten.
Kemampuan tersebut dinilai penting agar pesan keagamaan dapat dikemas secara menarik, terutama bagi generasi muda yang semakin dekat dengan berbagai platform media sosial.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa popularitas bukan tujuan utama dakwah. Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui integritas, penguasaan ilmu, serta konsistensi dalam menjaga akhlak.
Sementara itu, Mudir Tanfidzi sekaligus Mudir Ma’had Aly Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Tgk. H. Zahrul Mubarak atau Abi MUDI, menegaskan pentingnya mempertahankan tradisi keilmuan dayah dalam menghadapi perubahan zaman.
Menurut Abi MUDI, perkembangan teknologi perlu disikapi secara bijaksana. Santri yang memiliki pemahaman agama diharapkan mampu memberikan penjelasan terhadap informasi keliru, fitnah, maupun perdebatan keagamaan yang berkembang di media sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa dakwah tidak seharusnya dijadikan ajang memenangkan perdebatan. Penyampaian ajaran Islam harus mengedepankan kebenaran, pemahaman, serta adab dalam menghadapi perbedaan pandangan.









