Di Ngaji Kebangsaan, Gus Baha Ingatkan Harus Saling Menghormati dan Berlaku Adil

Tangkapan layar YouTube Official LP3IA saat Gus Baha menyampaikan materi Ngaji Kebangsaan bersama Polri. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, REMBANG – Pengasuh Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menekankan pentingnya kesadaran berketuhanan yang diwujudkan melalui sikap adil dan beradab.

Menurut Gus Baha, kesadaran kepada Tuhan tidak cukup hanya membuat seseorang takut melakukan perbuatan buruk. Nilai tersebut juga harus tercermin dalam perilaku terhadap sesama manusia.

Hal itu disampaikan Gus Baha dalam agenda Ngaji Kebangsaan bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di kompleks LP3IA, Narukan, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti personel Polri dan santri secara langsung maupun daring.

Dalam pemaparannya, Gus Baha menjelaskan bahwa seseorang yang hanya takut terhadap sanksi hukum atau pengawasan manusia dapat memiliki perilaku berbeda ketika tidak berada dalam pengawasan.

Ia mencontohkan orang yang menghindari tindak pidana seperti membunuh, mencuri, mengonsumsi narkoba maupun melakukan perbuatan asusila karena khawatir terhadap sanksi.

Baca Juga :  Bid Propam Polda Jambi Sosialisasi KKEP di Mapolres Tebo

Namun, kesadaran berketuhanan, menurut Gus Baha, membuat seseorang tetap menjaga perilakunya meskipun tidak ada manusia yang mengawasi.

“Tapi kalau orang ini berketuhanan yang Maha Esa di manapun dia tetap takut melakukan tindak pidana, karena tahu di mana-mana Tuhan itu melihat,” kata Gus Baha, dikutip dari video YouTube Official LP3IA – Ngaji Kebangsaan bersama Polri yang ditonton pada 29 September 2026.

Berketuhanan Harus Disertai Adab

Gus Baha kemudian mengaitkan kesadaran berketuhanan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurutnya, nilai tersebut semestinya mendorong seseorang untuk berbuat baik tanpa memandang atribut atau latar belakang orang lain.

Ia juga menceritakan kembali kisah yang pernah disampaikan gurunya, KH Maimun Zubair, mengenai peran para kiai dalam perjuangan bangsa.

“Makanya kata Mbah Maimun, guru saya, sering cerita ‘di kebun saya itu mesti ada ketela sama uwi, kata Mbah Maimun itu dulu yang memerdekakan Indonesia, karena ketika tentara di kampung-kampung itu yang merawat kiai-kiai yang daerah sini,” kenang Gus Baha.

Baca Juga :  Menaker: Itjen Harus Cegah Masalah, Bukan Sekadar Cari Temuan

Gus Baha menegaskan, kesadaran berketuhanan juga harus berjalan bersama perilaku yang adil dan beradab. Menurutnya, hal tersebut penting dalam menjaga hubungan antarsesama, termasuk antarumat beragama.

Ia mengingatkan agar nama Tuhan tidak digunakan untuk membenarkan sikap yang merendahkan atau menyalahkan orang lain hanya karena memiliki keyakinan berbeda.

“Sehingga berketuhanan itu harus punya ukuran yang objektif, punya perilaku yang adil dan beradab. Jadi kita mengatasnamakan Tuhan itu pantas. Kalau kita berbeda saling menghormati,” tutur Gus Baha.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT sekaligus hubungan dengan sesama manusia.

“Ajaran yang terkenal dari kiai-kiai kita yang punya ikatan dengan Allah, hablun minallah, dan punya hablun minan nas (ikatan dengan manusia),” imbuhnya.