Ia mengatakan hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dalam memperkuat pendampingan siswa, terutama dalam aspek kesejahteraan emosional dan pengembangan karakter.
Langkah tersebut juga menempatkan kesehatan mental sebagai salah satu bagian dari proses pendidikan, di samping pencapaian akademik. Pendampingan tetap perlu dilakukan secara proporsional dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing siswa serta melibatkan tenaga profesional apabila diperlukan.
Menurut Prof. Iskandar, hasil pemetaan tersebut bukan untuk memberi label kepada siswa, melainkan menjadi dasar untuk memahami kebutuhan mereka.
“Yang paling penting bukan sekadar angka hasil asesmen, tetapi bagaimana sekolah bersama orang tua dan tenaga pendamping dapat memastikan setiap anak mendapat ruang untuk didengar, didampingi, dan berkembang secara sehat,” ujarnya. (abs)









