3. Bisa Saling Mendukung
Teman yang baik bukan hanya hadir ketika keadaan menyenangkan. Mereka juga berusaha memberikan dukungan ketika temannya menghadapi masalah.
Dukungan tidak selalu harus berupa bantuan besar. Mendengarkan cerita, memberikan semangat, membantu ketika diperlukan atau sekadar menanyakan kabar bisa menjadi bentuk perhatian yang berarti.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persahabatan yang suportif berkaitan dengan kesejahteraan dan kualitas hidup yang lebih baik. Bahkan, kualitas hubungan pertemanan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan dan umur panjang.
4. Menghargai Perbedaan
Tidak semua teman harus memiliki pemikiran, kebiasaan dan pilihan hidup yang sama.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Pertemanan justru dapat bertahan ketika masing-masing pihak mampu menghargai perbedaan tanpa merasa harus memaksakan kehendak.
Teman yang dewasa memahami bahwa setiap orang memiliki batasan, prioritas dan jalan hidup masing-masing.
5. Menjaga Batasan
Pertemanan yang sehat juga membutuhkan batasan. Menjadi teman yang baik bukan berarti harus selalu tersedia atau menyetujui semua keinginan teman.
Saling menghormati waktu, privasi, keputusan dan kondisi masing-masing justru dapat membuat hubungan terasa lebih nyaman. Batasan yang sehat bukan tanda menjauh, melainkan salah satu cara menjaga hubungan agar tidak mudah menimbulkan konflik.
6. Mau Memperbaiki Kesalahan
Tidak ada pertemanan yang selalu berjalan sempurna. Salah paham, perbedaan pendapat atau perkataan yang menyinggung perasaan bisa saja terjadi.
Yang membedakan pertemanan yang bertahan lama dengan yang mudah berakhir adalah kemauan untuk menyelesaikan masalah.
Meminta maaf ketika bersalah, mau mendengarkan penjelasan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan.









