SIDAKPOST.ID, BUNGO – Jabatan dan harta merupakan bagian dari kehidupan dunia yang dapat menjadi sarana untuk berbuat baik. Namun, keduanya juga bisa membuat seseorang terlena apabila digunakan sebagai ukuran keberhasilan dan kebanggaan diri.
Dilansir dari NU Online, Senin (7/9/2026), naskah Khutbah Jumat berjudul “Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur” mengingatkan umat Islam agar tidak sampai terlena dengan harta, jabatan, fasilitas maupun kekuasaan yang dimiliki.
Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia maupun meninggalkan kemajuan. Seorang muslim tetap dianjurkan bekerja, membangun usaha, mengembangkan ilmu, meningkatkan kesejahteraan serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Namun, kemajuan dunia harus tetap ditempatkan secara proporsional. Jangan sampai kesibukan mengejar kehidupan dunia membuat seseorang melupakan tujuan hidup dan kewajibannya kepada Allah SWT.
Peringatan tersebut salah satunya terdapat dalam Surah At-Takatsur. Allah SWT berfirman:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak terjebak dalam perlombaan memperbanyak harta, kedudukan, pengaruh maupun kehormatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perlombaan dunia tidak selalu berbentuk mengumpulkan uang. Ada pula keinginan untuk mendapatkan jabatan, kekuasaan, fasilitas dan pengaruh yang lebih besar.
Jabatan yang semestinya menjadi sarana mengabdi kepada masyarakat dapat bergeser menjadi sesuatu yang diperebutkan karena kewenangan, fasilitas, akses, penghormatan dan pengaruh yang melekat di dalamnya.
Khutbah tersebut juga mengingatkan bahwa seseorang yang awalnya ingin menjadi pejabat untuk berbuat baik dapat saja terlena setelah mendapatkan jabatan. Kenyamanan fasilitas dan kekuasaan kemudian bisa memunculkan keinginan untuk mempertahankan posisi, mendapatkan kedudukan lebih tinggi hingga memperluas pengaruh.
Meski demikian, persoalan bukan terletak pada jabatan itu sendiri. Banyak orang yang memegang jabatan dengan sungguh-sungguh, sederhana dan berusaha memberikan manfaat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menggunakan jabatan tersebut dan menjaga hatinya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin turut mengingatkan sejumlah perkara yang dapat merusak manusia, di antaranya kikir, kesombongan, ujub, riya, iri hati, amarah, cinta harta dan cinta kedudukan.
Karena itu, manusia tidak cukup hanya berhati-hati terhadap keinginan mengumpulkan uang. Keinginan untuk dihormati, dikenal, memiliki pengaruh dan memperoleh kedudukan juga perlu dikendalikan.
Surah At-Takatsur kembali memberikan peringatan bahwa perlombaan dunia dapat membuat manusia lalai hingga ajal datang. Jabatan yang diperoleh hari ini pada akhirnya akan berakhir dan digantikan oleh orang lain.
Begitu pula fasilitas dan kekuasaan. Semuanya akan berpindah dan kembali kepada pemilik hakiki, yakni Allah SWT.
Khutbah tersebut menegaskan bahwa Islam tetap mendukung kemajuan. Umat membutuhkan pejabat yang kompeten, ekonomi yang kuat, teknologi yang maju, pendidikan yang berkembang serta pembangunan yang memberikan kesejahteraan.
Seorang muslim juga tidak harus hidup miskin untuk disebut zuhud. Namun, kemajuan tetap memiliki batas moral. Manusia boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai diperbudak oleh dunia.
Demikian pula dengan jabatan. Jabatan dapat digunakan sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat, bukan sebagai simbol keberhasilan pribadi atau sarana memperbesar kebanggaan diri.
Pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kursi kekuasaan akan diduduki orang lain dan fasilitas akan berpindah. Yang tersisa ketika manusia kembali menghadap Allah SWT adalah amal sebagai bekal.
Khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan utama. Harta boleh dimiliki, jabatan boleh diemban dan kemajuan boleh dikejar, tetapi semuanya harus tetap berada dalam koridor ketakwaan kepada Allah SWT.
Semoga para pemegang jabatan diberikan hati yang bersih dan dijauhkan dari kecintaan berlebihan terhadap kekuasaan beserta fasilitasnya. Dengan demikian, jabatan dan harta dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan justru menjadi sesuatu yang melalaikan manusia dari kehidupan akhirat.









