Menag Nasaruddin Umar Ajak Pemimpin Agama Dunia Wujudkan Perdamaian Lewat Aksi Nyata

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyampaikan gagasan perdamaian dunia dalam Pertemuan Internasional Sant'Egidio di Assisi, Italia. Foto: Dok. Kemenag RI

Gagasan tersebut sekaligus mempertegas peran Indonesia dalam memperkenalkan moderasi beragama dan nilai-nilai Islam Wasathiyah di tingkat internasional.

Pandangan Nasaruddin mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia yang menghadiri pertemuan tersebut.

Ketua Konferensi Waligereja Italia, Kardinal Matteo Zuppi, turut menekankan pentingnya menghilangkan pola pikir yang agresif dan berorientasi pada konflik. Menurutnya, lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab untuk membangun perdamaian dan menjaga martabat manusia.

Dukungan serupa disampaikan Rabi Agung Prancis, Haïm Korsia. Ia menilai kerja sama lintas agama melalui kegiatan kemanusiaan di tingkat masyarakat dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat dibandingkan kesepakatan politik semata.

Baca Juga :  Menaker Lantik 976 ASN, Tekankan Semangat Belajar, Integritas, dan Kekompakan

Sementara itu, perwakilan Kristen Ortodoks Timur dan Ekumenis turut memberikan perhatian terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman.

Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani bersama oleh Nasaruddin Umar dan Paus Fransiskus di Jakarta menjadi salah satu contoh penting kerja sama lintas agama meskipun terdapat perbedaan keyakinan dan pandangan teologis.

Baca Juga :  Di Ngaji Kebangsaan, Gus Baha Ingatkan Harus Saling Menghormati dan Berlaku Adil

Pertemuan internasional tersebut ditutup dengan komitmen bersama para panelis untuk melanjutkan semangat perdamaian Assisi 1986 melalui langkah konkret dalam bidang kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan diplomasi internasional.

Dalam pidatonya, Nasaruddin menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas,” tegas Nasaruddin Umar di Assisi, Italia. (sum)