SIDAKPOST.ID, BUNGO – Kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 diwarnai kehadiran sejumlah guru besar dan pimpinan perguruan tinggi yang dipercaya mengisi posisi A’wan.
Enam tokoh tersebut memiliki latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam. Mereka adalah Prof Asasriwarni, Prof Masnun Tahir, Prof Eduart Wolok, Prof Suharnomo, Prof Muhammad Madyan, dan Prof Sumper Mulia Harahap.
Dikutip dari NU Online, Rabu (7/10/2026), keberadaan para akademisi tersebut memperlihatkan beragamnya latar keilmuan dalam jajaran A’wan PBNU periode 2026–2031.
Prof Asasriwarni merupakan Guru Besar Ilmu Hukum Islam UIN Imam Bonjol Padang. Ia kembali mendapat kepercayaan sebagai A’wan PBNU setelah sebelumnya juga menduduki posisi yang sama.
Tokoh kelahiran Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 27 Maret 1952 itu pernah menempuh pendidikan di Pondok Tarbiyah Tabek Gadang sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Imam Bonjol Padang. Pendidikan magister ditempuh di Universitas Ekasakti, sedangkan gelar doktor diraih dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Di lingkungan NU, Prof Asasriwarni pernah menjabat Wakil Syuriah PWNU Sumatera Barat periode 2005–2010 dan Rais Syuriah PWNU Sumatera Barat periode 2010–2015.
Prof Masnun Tahir juga masuk jajaran A’wan. Ia merupakan Rektor sekaligus Guru Besar UIN Mataram.
Pria kelahiran Dasan Baru, Lombok Tengah, 27 Agustus 1975 tersebut menyelesaikan pendidikan S1 hingga doktoral di bidang yang berkaitan dengan hukum Islam. Karier akademiknya dimulai sebagai calon dosen STAIN Mataram pada 2004.
Perjalanan kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Guru Besar sekaligus Rektor UIN Mataram sejak 28 Juli 2021. Di luar kampus, Prof Masnun pernah memimpin PWNU Nusa Tenggara Barat.
Tokoh berikutnya adalah Prof Eduart Wolok, Rektor Universitas Negeri Gorontalo. Ia memiliki latar pendidikan teknik mesin dan manajemen.
Prof Eduart menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kemudian meraih gelar doktor bidang Manajemen dan Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Selain dunia akademik, ia aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Pengawas Pengurus Pusat PBSI dan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Gorontalo.
Sementara Prof Suharnomo merupakan Rektor Universitas Diponegoro (Undip). Ia memiliki latar belakang keilmuan manajemen dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Undip dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi.
Sebelum dipercaya sebagai A’wan PBNU, Prof Suharnomo pernah menjadi Dewan Pakar Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.
Ia juga pernah menjabat Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip selama dua periode, Ketua ISEI Semarang serta Komisaris Utama PTPN IX. Namanya turut dikenal setelah menjadi salah satu panelis Debat Calon Wakil Presiden pada Pemilu 2024.
Selanjutnya, Prof Muhammad Madyan, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, turut dipercaya menjadi A’wan PBNU.
Prof Madyan merupakan akademisi bidang manajemen dan keuangan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di Unair, kemudian melanjutkan studi magister lainnya di University of Wollongong, Australia, serta meraih gelar doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Brawijaya.
Dalam perjalanan kariernya di Unair, ia pernah dipercaya sebagai Direktur Sumber Daya Manusia, Direktur Keuangan, hingga Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia.
Tokoh keenam adalah Prof Sumper Mulia Harahap, Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
Prof Sumper menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, kemudian melanjutkan studi S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pendidikan S2 ditempuh di IAIN Sulthan Syarif Qasim Pekanbaru dan S3 di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.
Karier akademiknya dimulai sebagai dosen IAIN Padangsidimpuan. Ia kemudian menduduki sejumlah jabatan struktural di kampus, termasuk Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama.
Di lingkungan NU, Prof Sumper pernah menjabat Ketua Lajnah Bahtsul Masail dan Katib Syuriah. Ia juga aktif di MUI Tapanuli Selatan dan pernah dipercaya sebagai sekretaris serta ketua.
Kehadiran enam guru besar dan pimpinan perguruan tinggi tersebut menambah keberagaman latar belakang dalam jajaran A’wan PBNU masa khidmah 2026–2031. Bidang keilmuan mereka mencakup hukum Islam, manajemen, teknik, pendidikan tinggi, hingga sosial dan keagamaan.
Prof Asasriwarni mengungkapkan rasa syukurnya setelah kembali dipercaya menjadi bagian dari A’wan PBNU pada periode baru tersebut.
“Saya pernah dipercaya sebagai A’wan PBNU pada periode sebelumnya dan kini untuk kedua kalinya masuk dalam jajaran A’wan PBNU era Gus Kikin,” kata Prof Asas, sapaan akrabnya. (sum)









