Webinar Nasional UIN Jambi Bahas Cara Mengatasi Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika

Webinar nasional transformasi pembelajaran fisika yang digelar LP2M bersama Program Studi Tadris Fisika UIN STS Jambi, Jumat (9/10/2026). Foto: LPPM UIN STS Jambi

SIDAKPOST.ID, JAMBI – Pemahaman siswa terhadap pelajaran fisika tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan rumus dan menyelesaikan soal matematis. Guru perlu memastikan siswa benar-benar memahami konsep ilmiah di balik setiap persoalan yang dipelajari.

Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam webinar nasional bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika: Dari Miskonsepsi Menuju Pemahaman Mendalam” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) bekerja sama dengan Program Studi Tadris Fisika UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Jumat (9/10/2026). Kegiatan berlangsung secara daring.

Webinar dibuka Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi, Dr. Boby Sefrinando. Diskusi dipandu Susy Pransiska, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN STS Jambi.

Dua guru besar di bidang pendidikan fisika hadir sebagai narasumber, yakni Prof. Drs. Maison, M.Si., Ph.D., Guru Besar Pendidikan Fisika sekaligus Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pascasarjana Universitas Jambi, serta Prof. Dr. Achmad Samsudin, M.Pd., Guru Besar Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA).

Dalam pemaparannya, Maison menyoroti persoalan siswa yang mampu menyelesaikan soal menggunakan rumus, tetapi belum tentu memahami konsep yang mendasarinya. Kondisi tersebut dapat diketahui ketika siswa diminta menjelaskan fenomena fisika melalui situasi atau bentuk representasi yang berbeda.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Nilai, Ini 7 Kebiasaan Belajar yang Membantu Anak Lebih Mudah Memahami Pelajaran

Menurutnya, pembelajaran fisika harus mendorong siswa membangun pengetahuan melalui proses berpikir aktif, bukan sekadar menerima informasi dari guru.

“Siswa bukan wadah yang diisi, melainkan pembangun pengetahuan aktif. Oleh karena itu, kita perlu mengubah struktur kognitif, bukan sekadar menambah informasi,” ujar Maison.

Ia menjelaskan, keberhasilan siswa mengerjakan soal secara matematis tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator penguasaan materi. Guru perlu menelusuri apakah jawaban siswa didasarkan pada pemahaman konsep atau hanya mengikuti prosedur penyelesaian soal.

Untuk mengidentifikasi kesalahan pemahaman tersebut, Maison menekankan pentingnya penggunaan instrumen diagnosis yang tepat dan akurat. Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan ialah Five-Tier Diagnostic Test, yakni tes diagnostik lima tingkat untuk mengidentifikasi pola pemahaman siswa, termasuk miskonsepsi, penguasaan konsep, hingga kemungkinan jawaban yang muncul karena tebakan.

Sementara itu, Achmad Samsudin menegaskan bahwa miskonsepsi tidak semestinya langsung dipandang sebagai kegagalan siswa dalam belajar. Pemahaman yang keliru justru dapat menjadi petunjuk bagi guru untuk mengetahui pola pikir dan cara siswa menafsirkan suatu fenomena.

“Miskonsepsi merupakan jendela untuk memahami cara berpikir siswa,” ujarnya.

Menurut Achmad, pembelajaran yang efektif harus dimulai dengan mengenali pengetahuan awal siswa. Dengan demikian, guru tidak hanya berfokus menyampaikan materi, tetapi juga mampu mengidentifikasi kesenjangan antara pemahaman awal siswa dan konsep ilmiah yang seharusnya dipahami.

Baca Juga :  Rektor Universitas Muara Bungo Resmi Dilantik, Ini Pesan Ketua Yayasan

Setelah miskonsepsi ditemukan, langkah berikutnya ialah melakukan remediasi melalui Conceptual Change Model (CCM) atau model perubahan konseptual. Pendekatan ini membantu siswa mengevaluasi pemahaman sebelumnya dan menyusun penjelasan baru yang lebih sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah.

Achmad menjelaskan, perubahan pemahaman tidak dapat dicapai hanya dengan memberikan informasi tambahan. Siswa perlu menyadari keterbatasan konsep yang diyakininya, kemudian memahami penjelasan alternatif yang masuk akal dan mampu digunakan untuk menerangkan fenomena yang dipelajari.

“Perubahan konsepsi tidak terjadi melalui pemberian informasi semata, tetapi melalui proses dari ketidakpuasan, dapat dipahami, masuk akal, dan akhirnya bermakna,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa guru perlu membangun suasana pembelajaran yang mendorong siswa aktif menguji gagasan, mempertanyakan pemahaman, serta menemukan keterkaitan antarkonsep. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pembelajaran fisika tidak berhenti pada hafalan rumus, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang mendalam.

Menutup paparannya, Achmad menyampaikan pesan reflektif mengenai peran pendidik dalam membantu siswa membangun pengetahuannya sendiri.

“We cannot teach people anything, we can only help them discover it within themselves,” tutupnya. (sum)