Jurnalis Tanpa Kata

Ketika kata-kata tak bisa ditulis, tapi bisa jadi viral

Gambar Ilustrasi Seorang Jurnalis Yang Profesional. (is/ Sidakpost.id)

Joko sudah bekerja sebagai jurnalis selama tiga tahun. Namun, ada satu masalah besar: dia tidak bisa menulis. Bukan karena dia buta huruf atau tidak punya laptop, tapi karena setiap kali dia duduk di depan layar, otaknya mendadak kosong seperti dompet akhir bulan.

Setiap kali bosnya, Pak Anton, meminta artikel, Joko selalu punya alasan ajaib.

“Pak, laptop saya kesamber petir!” kata Joko suatu hari.

“Tapi kamu pakai laptop kantor.”

“Iya, Pak… yang ini kesamber sinyal Wi-Fi jelek.”

Pak Anton menghela napas panjang. “Joko, kamu jurnalis. Tugasmu menulis!”

“Iya, Pak, saya ngerti!” jawab Joko, lalu buru-buru keluar ruangan.

Suatu hari, Joko ditugaskan meliput lomba makan kerupuk. Seharian dia mewawancarai peserta, mengambil foto, dan mengamati jalannya lomba. Ketika pulang ke kantor, dia duduk di depan komputernya, siap menulis laporan. Lima jam kemudian, layar masih kosong. Bahkan kursor pun tampak menyerah.

Baca Juga :  Pendukung Garis Keras yang Gagal Move On

“Joko, mana artikelnya?” tanya Pak Anton sambil melongok dari balik meja.

“Ehm… Pak, saya masih cari angle terbaik!” jawab Joko dengan percaya diri.

Pak Anton mendekat dan membaca isi dokumen Joko. Hanya ada satu kalimat: “Lomba makan kerupuk berlangsung meriah.” Lalu kosong.

“Joko… ini apaan?!”

“Saya nggak mau spoiler, Pak…”

Pak Anton memijat pelipisnya. “Joko, kalau besok kamu nggak kasih artikel, kamu saya suruh liput acara marching band sekampung selama 24 jam tanpa istirahat!”

Joko menelan ludah. Malam itu, dia bertekad menulis artikel terbaik sepanjang kariernya. Dia minum kopi, meditasi, bahkan membakar kemenyan (yang ternyata malah bikin tetangga ketakutan). Tapi tetap saja, tidak ada satu kata pun keluar.

Baca Juga :  Game Penghasil Uang di Android: Hiburan Sekaligus Peluang Menghasilkan

Akhirnya, karena frustasi, Joko menulis:

Kerupuk adalah camilan khas Indonesia. Di lomba makan kerupuk, orang makan kerupuk. Setelah kerupuk habis, mereka kenyang. Lalu mereka pulang.

Dengan bangga, dia menyerahkan artikel itu ke Pak Anton keesokan paginya. Pak Anton membaca dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Antara marah, putus asa, dan ingin tertawa.

“Joko, kamu tahu nggak, tulisan ini terlalu… jujur.”

“Terima kasih, Pak!”

“Bukan pujian, Joko. Kamu dipecat.”

Dan begitulah, karier Joko sebagai jurnalis berakhir. Tapi jangan sedih! Sekarang dia sukses sebagai Youtuber yang tidak perlu menulis sama sekali. Sebagai gantinya, dia hanya berbicara tentang lomba makan kerupuk.

Dan anehnya, itu malah viral.

Editor: Madi