Dinilai Lebih Kejam, Varian Virus Corona di Afrika Jadi Momok Menakutkan

Dibaca: 207 kali

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Omicron menjadi nama resmi yang diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai varian virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan.

Virus corona jenis baru ini sebelumnya bernama B.1.1.529. Menurut WHO, kasus positif akibat varian ini meningkat di hampir semua provinsi di Afrika Selatan.

“Varian ini memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan,” begitu pernyataan resmi WHO.

Varian Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November lalu. Virus ini diidentifikasi telah menyebar di Botswana, Belgia, Hong Kong, dan Israel.

Sejumlah negara kini telah melarang atau membatasi perjalanan menuju dan dari Afrika Selatan.

Inggris, misalnya, akan menolak kedatangan turis dari Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, dan Eswatini, kecuali mereka berstatus warga negara Inggris, Irlandia, atau memiliki izin tinggal di Inggris.

Terkait varian baru ini, terhitung Senin depan, AS juga akan menutup akses masuk penerbangan dari Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik dan Malawi.

Sebuah virus kerap berubah atau bermutasi dari waktu ke waktu. Sebuah varian masuk daftar perhatian WHO jika mutasi itu dapat mempengaruhi penularan, virulensi atau efektivitas vaksin.

Sementara itu, Ahli penyakit paru-paru Prof Tjandra Yoga Aditama menuturkan saat ini varian tersebut telah punya banyak mutasi.

Ada yang menyebutkan 30 mutasi atau lebih jadi lebih banyak dari varian Delta dan yang lain.

“Makin banyak mutasi yang ada tentu akan makin mengkhawatirkan tentang kemungkinan dampaknya,” ujar Prof Tjandra

Menurut dia ini mengkhawatirkan artinya harus waspada dan diteliti mendalam secara ilmiah namun belum tentu juga akan lebih berbahaya, tergantung dari analisa ilmiah beberapa waktu ke depan.

“Sejauh ini yang diduga sedikitnya akan ada dampak terhadap penularan, belum terlalu jelas apakah akan ada dampak pada 4 hal lain, yaitu beratnya penyakit, diagnosis dgn PCR & Antigen, infeksi ulang dan vaksin,” jelas mantan petinggi WHO Asia Tenggara ini.

Biasanya perlu waktu beberapa minggu agar semua informasi lebih jelas. Beberapa negara sudah membatasi penerbangan dari negara terjangkit, dan atau memperketat karantina.

“Yang jelas kita masih harus menunggu perkembangan ilmu dalam beberapa hari ini, dan kita harus terus waspada dan menerapkan 3 M, 5 M, kalau ada keluhan dan atau ada kontak maka segera memeriksakan diri dan untuk yang belum maka segera divaksinasi,” pesan Prof Tjandra.

Mutasi virus corona muncul disebabkan oleh kurang meratanya vaksinasi di negara-negara benua tersebut. Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika) John Nkengasong mengatakan hanya 6,6% dari 1,2 miliar penduduk Afrika yang sepenuhnya divaksinasi.

Nkengasong mengatakan ini artinya Afrika masih jauh dari mencapai tujuan Uni Afrika untuk memvaksinasi 70% orang pada akhir tahun 2022. Meski begitu, kini pengiriman vaksin Covid-19 ke Afrika mulai meningkat meski masih terseok-seok karena medan perjalanan.

“Apa yang kami lihat sekarang adalah lebih banyak vaksin masuk dan penyerapannya ditantang karena logistik dan pengirimannya,” kata Nkengasong, dikutip dari Reuters. “Ini tidak selalu tentang keragu-raguan, ini tentang memindahkan vaksin dari bandara ke tangan (orang), ini tentang logistik.”

Dia menyebut Republik Demokratik Kongo dan Kamerun memiliki tantangan logistik tertentu. Masalah serupa juga terjadi di banyak negara Afrika lainnya.

Kongo sejauh ini telah memberikan sekitar 168.000 dosis vaksin Covid. Ini cukup untuk memvaksinasi penuh hanya 0,1% dari populasi.

Di seluruh Afrika, pihak berwenang berhasil melakukan kampanye vaksinasi massal rutin terhadap penyakit seperti campak. Tetapi banyak yang berjuang di awal tahun ketika dosis Covid-19 tiba, dengan alasan kekurangan dana, pelatihan, dan penyimpanan dingin.

Tetap jalankan prokes

Menanggapi hal itu, Ketua DPR RI, Puan Maharani hingga saat ini terus menerus mengingatkan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Anjuran Puan Maharani ini sangat beralasan, menyusul adanya analisis dari para ahli yang menyebutkan kekebalan komunal (herd immunity) dari virus Covid-19 akan sulit tercapai akibat mutasi.

Tidak heran jika Puan Maharani bahkan meminta masyarakat agar mulai terbiasa hidup dengan menerapkan prokes, terutama dengan adanya varian baru Lambda.

“Saya berharap masyarakat akan terus terbiasa hidup bersama prokes dalam menghadapi virus Covid-19 yang diprediksi akan ada di tengah-tengah kita untuk waktu lama,” ucap Puan Maharani.

Pasalnya beberapa guru besar epidemiologi sendiri mengungkapkan herd immunity tak akan terjadi, sekalipun vaksinasi terus dikejar sesuai target.

Ini semua dikarenakan adanya mutasi-mutasi yang terus terjadi virus Covid-19 yang menyebabkan tingkat kemanjuran vaksin (efikasi) tidak optimal.

Sementara untuk terciptanya herd immunity akan sangat bergantung kepada efikasi vaksin.

Puan Maharani sendiri menyebut mutasi virus Covid-19 memunculkan varian baru yang bernama Lambda.

“Apalagi mutasi-mutasi virus Covid-19 terus terjadi, termasuk yang baru saja teridentifikasi munculnya varian baru Corona, yakni varian lambda,” ucap Puan Maharani. (pis)

ADVERTISEMENT