Jelang Peringatan Maulid Nabi, Warga Pariaman di Bungo Siapkan Lemang

Dibaca: 424 kali
Inilah Proses Penbuatan Lemang Tradisi Lama Sebelum Maulid Warga PKDPP di Muara Bungo Jambi.

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Tradisi lama sebelum memperingati Maulid Nabi Muhammad, SAW Persatuan Keluarga Daerah Padang Pariaman (PKDPP) yang ada di Kabupaten Bungo Jambi, memasak lemang, Rabu (27/12/2017) kemarin.

Pantauan dilapangan, sejumlah warga Pariaman yang sudah lama menetap di Bungo. Sejak pagi hari disibukkan dengan aktivitas menanaklemang, sebagai makanan khas yang akan disuguhkan dalam acara Maulid Nabi.

“Ya kalau proses membuat lemang tidak sulit. Kita bikin seperti ini, sebagai tiang penyangga untuk membakar lemang dengan menggunakan kayu kering dan dibakar hingga tidak terlalu matang, agar lemang yang dibakar lebih enak rasanya,” terang ibu Endong (43) disela aktivitas memasak lemang.

Ia mengaku, kegiatan membakar penganan khas yang berada di dalam batang bambu tersebut memakan waktu paling cepat sekitar empat jam lamanya.

Seperti diketahui, lemang terbuat dari pulut atau ketan yang di campur dengan santan dan garam kemudian dilapisi daun pisang, serta dibakar menggunakan bambu setelah itu baru kita bakar.

Cara membakar lemang dengan posisi di bagian tengah bambu yang agak dimiringkan pada tiang penyangga. Agar masaknya rata, maka putar-putar bambu yang di bakar dengan kayu api yang tidak terlalu besar.

“Bila kita beli di pajak (pasar), harga lemang ini Rp 15 ribu untuk satu sambung. Cuma, tak enak kita rasa kalau tidak kita bakar sendiri. Apalagi ini tradisi setiap tahun yang kami lakukan saat memperingati hari besar Islam seperti sekarang ini, ” ucapnya lagi.

Sementara itu, Ketua PKDPP Muara Bungo, H Ramli mengatakan tradisi melemang, sudah lama dilakukan sejak tinggal di Kabupaten Bungo. Karena tradisi melemang tidak dipisahkan dari keluarga besar Padang Pariaman yang selalu melestarikan adat ranah minang.

“Memang kita keluarga besar Padang Pariaman masih tetap melestarikan dan menjunjung tradisi ranah minang yang sudah lama dilakukan. Namun dibalik itu semua adat istiadat bungo tetap kita junjung tinggi, karena sesuai kata pepatah. Dimana bumi dipinjak disitu langit dijunjung,” ucap H Ramli. (rul)

ADVERTISEMENT





ADVERTISEMENT