Dasar Kehidupan Ekonomi Menurut Perspektif Islam

Dibaca: 254 kali

 

PENDAHULUAN

Islam sebagai agama yang di ridhoi oleh Allah SWT tidak hanya mengajarkan kepada umatnya untuk beribadah, tetapi juga untuk bekerja. Tetapi dalam pelaksanaannya, kehidupan sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat termasuk umat islam selama ini telah banyak terjadi pelanggaran dan meninggalkan nilai-nilai atau ajaran agama.

Pelanggaran-pelanggaran itu termasuk seperti riba, menimbun barang, suap (risywah), menipu, curang dalam timbangan, pemborosan, keserakahan, dan sebagainya.

Pelanggaran-pelanggaran syariah dalam berekonomi tersebut pasti akan menyebabkan krisis ekonomi suatu negara, selain itu dampak lain yang ditimbulkan bisa berupa kerusakan lingkungan, meningkatnya kesenjangan sosial, dan timbulnya sistem ekonomi yang buruk. Penyebab timbulnya kerusakan tersebut adalah berasal dari ulah manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam menjalankan ibadah dan melakukan pekerjaan tentunya harus dilandasi dengan hukum. Perlu diingat kembali landasan hukum yang mendasari pelaksanaan kehidupan ekonomi umat Islam. Apa sajakah landasan hukum tersebut? Dan apa manfaatnya? Akan dibahas dalam penjelasan di bawah ini.

Landasan dan Manfaat Ekonomi Islam AL QUR’AN

Zahrah (1994) menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah SWT, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir melalui malaikat Jibril dari mulai surat Al Fatihah diakhiri surat An Nas dan membacanya merupakan ibadah.

Al Qur’an, merupakan dasar hukum ekonomi Islam yang abadi dan asli dan merupakan sumber serta rujukan yang pertama bagi syari’at Islam, karena di dalamnya terdapat kaidah-kaidah yang bersifat global beserta rinciannya. Al Qur’an

Menurut Depertemen Agama RI (1989) terdiri dari 30 juz, 114 surah, 6236 ayat dan 324345 huruf. Menurut turunnya wahyu (surah) dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

Wahyu (surah) yang turun di Mekkah (Makkiyah) yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum berhijrah ke Madinah yaitu 12 tahun 5 bulan 13 hari.

Wahyu (surah) yang turun di Madinah (Madaniyyah) yaitu wahyu yang yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW setelah berhijrah ke Madinah yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Dilihat dari kandungannya, Al Qur’an memiliki fungsi (multifungsi). Menurut Syarifuddin (1997) fungsi Al Qur’an terbagi menjadi dua yaitu :

PERTAMA, sebagai rahmat yang dikaruniakan Allah kepada umat manusia. Bila mereka menerima dan mangamalkan keseluruhan isi Al Qur’an, maka akan mendapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan kesenagan di akhirat.

KEDUA, sebagai hudan atau petunjuk. yang artinya sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengenal Rasul dan membuktikan kebenaran serta sekaligus menjadi tanda atau identitas kerasulan. Petunjuk Al Qur’an itu dapat diklasifikasikan kedalam dua bentuk.

PERTAMA, eksplisit yaitu ayat-ayat yang secara jelas dapat ditafsirkan langsung. Kedua implisit yaitu ayat-ayat yang memerlukan penjelasan atau penafsiran secara rinci oleh nabi dan para pengikutnya. Kedudukan Al Qur’an sebagai sumber utama dan pertama bagi penetapan hukum, maka apabila menemukan suatu permasalahan atau kejadian tindakan pertama yang harus dilakukan adalah mencari penyelesaiannya dari Al Qur’an.

AS SUNNAH – Menurut bahasa sunnah berarti metode atau jalan, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yaitu “ Barang siapa yang mencontohkan jalan yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang mencontohkan jalan yang jelek, maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR.muslim:2398).

Makna lain dari sunnah secara bahasa dapat berupa kebiasaan, syariat, adat, maupun kebiasaan hidup yang mengacu pada perilaku Nabi SAW. Kumaidi (2008) menyebutkan bahwa Sunnah atau hadits dibedakan menjadi 3 yakni :

PERTAMA – Sunnah Qauliyah, yaitu sunnah yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk perkataan yang didengar oleh sahabatnya. Namun yang diucapkan itu bukan wahyu Al Qur’an.

KEDUA – Sunnah Fi’liyah, yaitu semua perbuatan dan tingkah laku Nabi SAW yang dilihat dan diperhatikan oleh sahabat kemudian disebarluaskan.

KETIGA – Sunnah Taqririyah, yaitu perbuatan sahabat yang mendapat persetujuan dari Nabi Muhammad SAW.

Dasar hukum hadits atau sunnah sebagai pertimbangan setiap masalah ataupun persoalan setelah Al Qur’an adalah dalam surat Al Hasyr ayat 7 :” Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.

IJMA’- Ijma’ dalam istilah ahli ushul fiqih adalah kesepakatan para imam mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah Rasul SAW wafat. Menurut Hakim (2012) ijma’ adalah suatu prinsip penetapan hukum, yang muncul sebagai akibat dari penalaran yang dilakukan atas suatu peristiwa hukum yang berkembang dengan cepat akibat fenomena masyarakat.

Namun perlu diingat kedudukan ijma’ pastilah terletak dibawah Al Qur’an dan As Sunnah dan ijma’ tidak boleh menyalahi nash yang qath’i. Ijma’ itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu ijma’ bayani dan ijma’ sukuti.

QIYAS – Qiyas menurut istilah ahli ushul fiqih adalah mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, dalam hukum yang ada nashnya, karena persamaan kedua itu dalam illat hukumnya.

Qiyas menurut Mannan (1993) adalah memperluas hukum-hukum ayat kepada persoalan yang tidak termasuk dalam bidang syarat-syaratnya.

Rukun qiyas terdiri dari 4 yaitu: Al-ashlu, Al-far’u, hukum ashl, dan ai-‘illat. Sedangkan dalil atau petunjuk yang memperbolehkan qiyas sebagai landasan hukum dalam fiqih Islam adalah surat An Nisa ayat 59:

“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Perintah menaati Allah berarti mengikuti hukum di dalam Al Qur’an, perintah mengikuti Rasul berarti perintah untuk melaksanakan hukum yang terdapat dalam Sunnah, dan perintah menaati ulil amri berarti perintah mengikuti hukum hasil ijma ulama.

KESIMPULAN- Untuk meminimalisir terjadinya berbagai macam pelanggaran di segala aspek diperlukan adanya sebuah hukum yang mengaturnya. Hukum disini bukanlah hukum seperti dalam sistem kehidupan dunia melainkan hukum yang mendasari pelaksanaan kehidupan sebagaimana yang telah diajarkan kepada umat Islam.

Hukum itu terdiri dari 4 landasan yaitu Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Baik As Sunnah, Ijma’, dan Qiyas pada dasarnya bersumber pada landasan tertinggi yaitu Al Qur’an. Di Indonesia sendiri sudah ada yang menerapkan landasan ini, salah satu contoh adanya bank-bank syariah.

Jika dalam suatu negara atau orang per orang melihat ataupun melakukan pelanggaran, maka kembali lagi melihat kepada 4 landasan itu karena dalam landasan itu sudah terperinci secara jelas sehingga tidak ada pendapat yang bisa mendominasinya.

Oleh karena itu, apabila menerapkan keempat landasan ini, pelaksanaan kehidupan baik bidang sosial, ekonomi, dan sebagainya, niscaya kesejahteraan di dunia maupun akhirat dapat terpuaskan. (*)

Oleh : Lilik Alfia, Lycia Aprilia S, Tika Suratmi, Handi Wijaya  (Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi)

ADVERTISEMENT


1 Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*