Babinsa Koramil 03/Sungai Bengkal Monitoring Sawah Petani

Dibaca: 62 kali

SIDKPOST.ID, TEBO – Keluhan masyarakat yang berprofesi sebagai petani padi di wilayah Kecamatan Muara Tabir langsung mendapat respon dari Sersan Dua Abdul Karim anggota Bintara Pembina Desa Komando Rayon Militer 416-03/Sungai Bengkal yang membawahi beberapa desa di wilayah Kecamatan Tebo Ilir dan kecamatan Muara Tabir, Kab.Tebo.

Serda Abdul Karim saat ditemui di area persawahan Desa Bako Pintas mengungkapkan, pengecekan terhadap tanaman padi tersebut dilakukan setelah sebagian padi petani mengalami serangan hama wereng & burung yang menyerang wilayah tersebut pada saat tanaman padi mulai berbuah.

“Dampak serangan hama wereng & burung pada sejumlah lahan milik petani berimbas sebagian tanaman padi milik petani mulai menguning dan kering sementara,”katanya.

Dikatakan, sebagian petani masih mempergunakan penyemprotan menggunakan pestisida untuk mengurangi dampak serangan hama wereng tersebut.

Untuk itu, pengecekan langsung ke lapangan dilakukan untuk mengetahui dampak serangan hama tersebut dan selanjutnya akan berkoordinasi dengan penyuluh pertanian terkait pola penanganan serangan hama padi yang bisa berimbas pada produktiftas padi yang menurun.

“Sebagai anggota Babinsa kita lakukan berbagai upaya pendampingan ke petani dan juga kita melakukan koordinasi dengan pihak penyuluh agar persoalan yang dihadapi bisa dicarikan solusi khususnya dalam pemberantasan hama tanaman,” papar Sersan Dua Abdul Karim selaku Babinsa Koramil 416-03/Sungai Bengkal, Sabtu (28/09/2019)

Selain pengecekan terhadap hama padi milik petani setempat, ia menyebut pendampingan kepada petani sudah dilakukan sejak proses penanaman termasuk pendampingan kepada sejumlah kelompok tani di antaranya Poktan Sumber Jaya dan beberapa poktan lain.

Pengamatan terhadap tanaman padi milik petani di wilayah tersebut menurut Abdul Karim dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan dan mewaspadai penyebaran hama pada tanaman padi serta pencegahan dini agar hama tidak menyerang ke petak sawah yang lain dan kemungkinan gagal panen.

Sementara itu hama wereng coklat yang menyerang padi petani ia mengungkapkan diduga akibat perubahan cuaca yang kerap terjadi di wilayah tersebut dengan kondisi sering hujan dan sekaligus panas berimbas mendukung perkembangan hama.

Turunnya anggota Babinsa ke sawah dan langsung menemui para petani tersebut diakui Serda Abdul Karim bukan tanpa alasan. Hal ini sesuai dengan kerjasama antara TNI dan Kementerian Pertanian anggota Babinsa sebagai ujung tombak TNI di masyarakat.

Kedua pihak ikut berupaya menyukseskan program swasembada pangan, serapan gabah (sergab) dan upaya khusus produksi padi jagung dan kedelai (upsus pajale) melalui gerakan perluasan luas tambah tanam (LTT) di lahan pertanian yang ada di Kabupaten Lamsel.

“Monitoring mulai masa tanam, perkembangan serta serangan hama hingga masa panen merupakan upaya mencapai target sasaran yaitu swasembada pangan sehingga anggota TNI dalam hal ini Babinsa dikerahkan,” tutur Abdul Karim.

Serda Abdul Karim juga menyebut gerakan proaktif antara TNI dan penyuluh pertanian tersebut juga dilakukan dengan memberikan penyuluhan terkait pola tanam, antisipasi hama penyakit hingga proses pemanenan.

Pihaknya juga bahkan ikut mengawasi pola pendistribusian pupuk agar tidak terjadi penyelewengan pupuk bersubsidi untuk petani dan kebutuhan pupuk bisa terpenuhi.

Marzuki, anggota kelompok tani Sumber jaya mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir sejumlah petani sudah tidak asing dengan keberadaan anggota TNI yang ada di lahan pertanian.

Ia bahkan menyebut dengan adanya program kerjasama antara Kementan dan TNI masyarakat bahkan sebagian yang tergabung dalam poktan terbantu dengan pemberian bantuan alat dan mesin pertanian.

“Kami terbantu dengan sering terjunnya babinsa ke area persawahan sehingga keluhan dan harapan petani bisa disalurkan ke instansi terkait khususnya dalam pertanian padi,” ungkap Sudin.

Marzuki yang sebagian lahan sawahnya mulai diserang hama burung mengaku masih menggunakan cara tradisional mengusir hama burung dengan kentongan dan orang orangan sawah.

Ia berharap produksi padinya tidak menyusut akibat serangan hama burung pipit dengan hasil mencapai 3,5 ton perhektar dan dipanen dengan menggunakan mesin pemanen (combine harvester) meski penanaman dilakukan secara tradisional. (red)

ADVERTISEMENT