Kenapa Sinetron yang Kurang Mendidik Ada Ditayangkan di Televisi, Sedangkan Film atau Kartun Dinyatakan Tidak Layak Ditonton?

Dibaca: 560 kali

Belakangan ini sudah marak terjadi kasus kasus kekerasan dan khususnya di bagian lingkungan sekolah. Ada banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa media komunikasi dari siaran yang diputarkan lewat televisilah yang membuat efek negatif dan memicu kekerasan tersebut terjadi.

Atas hal itu suatu lembaga independen milik negara yang bernama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyatakan bahwa ada beberapa program siaran yang bermasalah seperti bioskop ditayangkan oleh Trans TV, Dag Dig Dug Nunggu Bedug yang ditayangkan TPI, Gala Sinema SCTV, Sinetron Manohara ditayangkan oleh RCTI, Insomnia Ngajak Sahur yang ditayangkan Global TV, Opera Van Java ditayangkan oleh Trans 7, dan masih ada banyak siaran lagi, hal itu dinyatakan oleh KPI di Jakarta, Senin, 9 November 2009.

Setelah pernyataan itu ada beberapa program siaran yang mendapat ancaman (demand) akan diberhentikan oleh KPI hal itu memicu terjadinya pro dan kontra di masyarakat.

Adapun hal yang membuat masyarakat Indonesia tidak setuju ialah karena KPI memberantas siaran yang menurut pandangan masyarakat memiliki lebih banyak sisi positifnya dibandingkan negatifnya.

Salah satu siaran yang bagi masyarakat positif ialah kartun kartun seperti Spongebob Squarepants dengan alasan banyak pembelajaran yang didapatkan oleh kartun itu mulai dari pertemanan, pantang menyerah, disiplin dan lain lain tetapi KPI memberikan ancaman (demand) kepada siaran yang membuat program adanya kartun Spongebob Squarepants dengan beralasan adanya tindakan kekerasan, sifat – sifat negatif, perilaku yang tergolong negatif, dan yang lainnya.

Setelah hal – hal itu netizen yang mulai kecewa terhadap lembaga KPI karena melarang dan bahkan mengancam siaran televisi yang lebih banyak mendidik daripada siaran yang kurang mendidik.

Bahkan ada salah satu netizen dari Indonesia yang marah dan mengatakan “Pak @KPI_Pusat yang terhormat, coba di evaluasi lagi itu acara sinetron di televisi yang lain, itu lebih bermasalah lagi, ada adegan berkelahinya, tawuran, balapan liar, pemalakkan, cinta – cintaan.

Itu lebih parah lagi daripada sebatas Spongebob” ungkap dari akun @Nandagustiann lewat akun sosial media yakni akun Twitter miliknya.
Tidak hanya siaran yang ada kartun Spongebob Squarepants diancam (demand) dan dilarang, sudah ada banyak kartun – kartun yang bagus dilarang dan diancam oleh KPI sedangkan sinetron dari Indonesia malah lebih diperbanyak dan membuat sebagian netizen geram.

Walaupun begitu KPI pasti memiliki alasan dan memikirkan bahwa hal yang mereka lakukan itu pasti akan membawa efek baik kepada seluruh masyarakat Indonesia mulai dari anak anak sampai ke lansia.

Tetapi sekali benci yah tetap benci, siaran – siaran yang disukai banyak netizen atau masyarakat luas banyak yang dilarang jika sesuatu yang disukai dilarang tentu saja hal itu akan membawa rasa benci, ya itulah yang dirasakan oleh KPI di saat ingin membuat perubahan di Indonesia yang tercinta ini.

Dari analisis saya, KPI melakukan tindakan melarang penyiaran beberapa siaran yang kerap disukai oleh netizen ialah agar netizen dari Indonesia mau melihat hasil karya anak bangsa dan tidak terus – terusan bergantung pada siaran dari negara lain seperti Jepang, Amerika, India, dll. Tidak hanya itu, belakangan ini dunia kartun Indonesia mulai berkembang dan beberapa kartun Indonesia mulai digemari oleh para netizen Indoneisa seperti kartun Adit & Sopo Jarwo dan Kiko.

Bukan hanya di bagian dunia kartun Indonesia saja yang telah berkembang, ada juga beberapa acara televisi buatan Indonesia yang mulai digemari oleh netizen Indonesia, yakni pengabdi setan, the raid, merah putih memanggil, foxtrot six, dan lain lain.

Karena hal itulah KPI melakukan tindakan seperti itu, agar bisa memaksa perubahan yang dimana Indonesia mulai memproduksi acara televisinya sendiri dan tidak bergantung lagi ke negara lain.

Sudah sepatutnya kita tidak menilai sesuatu dari satu pandangan saja seperti kata kata “Don’t judge book from the cover”, kita sebagai netizen dan masyarakat Indonesia harus bisa membuat perubahan yang bisa mengarahkan perkembangan Indonesia menjadi lebih baik lagi, dan KPI membuat perubahan yang dimana Indonesia mulai bisa menunjukkan bahwa Indonesia itu bisa membuat acara televisi sendiri serta agar seluruh rakyat Indonesia mulai peduli terhadap hasil kerja keras dari anak bangsa Indonesia tidak peduli bagus atau tidak yang penting kita telah berjuang mencari perubahan yang dimana Indonesia tidak akan menjadi negara konsumen lagi melainkan menjadi negara produsen.

Artikel Ini Ditulis :  Gabriel Prawira Marpaung (Mahasiswa Psikologi UMA)

ADVERTISEMENT