Asal-usul Penyebutan BH di Indonesia dan Bra di Dunia

Dibaca: 279 kali
Foto (ist)

SIDAKPOST.ID – Salah satu pakaian dalam wanita yang dikenal dengan sebutan bra atau BH merupakan hal yang familiar. Bra yang biasa dikenakan wanita dirancang untuk menopang payudara wanita agar nyaman digunakan saat beraktivitas.

Wanita telah mengikat dan menopang payudara mereka selama berabad-abad. Bra pertama mungkin berasal dari Yunani kuno, di mana wanita membungkus pita kain di dada mereka, mengikat atau menjepitnya di belakang.

Mengapa pakaian dalam wanita yang satu ini disebut bra?

Kata “brassiere” digunakan sebagai konsep yang tersebar luas. Kata tersebut berasal dari bahasa Prancis yang berarti “lengan atas”. DeBevoise Company menggunakan istilah itu dalam iklan untuk kamisol yang didukung tulang ikan paus.

Menurut majalah Life, pada tahun 1889 Herminie Cadolle dari Perancis menemukan bra modern pertama. Bra muncul dalam katalog korset sebagai pakaian dalam dua potong, yang awalnya dia sebut ngarai korselet, dan kemudian le bien-être yang berarti kesejahteraan.

Pakaiannya secara efektif memotong korset tradisional menjadi dua: Bagian bawah adalah korset untuk pinggang dan bagian atas menopang payudara dengan tali bahu. Saat itu bra dirancang untuk menopang dada dan didukung oleh bahu.

Herminie mematenkan penemuannya dan menunjukkannya di Pameran Besar tahun 1889. Perusahaan milik keluarganya mengklaim bahwa Herminie membebaskan wanita dengan menciptakan bra pertama.

Pakaian dalam wanita yang satu ini diberikan sebutan “bra’ dikarenakan pada hari itu, 3 November 1914, Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat memberikan hak paten kepada Mary Phelps Jacobs untuk pakaian yang dia sebut “brassiere”.

Di Indonesia sendiri bra lebih populer dengan sebutan BH. Bagaimana asal-usul penyebutan BH di Tanah Air?

BH sendiri merupakan kepanjangan dari Bustle Houder yang merupakan bahasa Belanda yang memiliki arti penyangga payudara. Masuknya Eropa ke Indonesia mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang saat itu masih senang bertelanjang dada. Mereka membawa korset yang merupakan pakaian dalam untuk membuat tubuh menjadi lebih ramping.

Menurut desainer dan pengamat mode Sonny Muchlison, keraton yang dikenal sangat mengikuti tren dalam berpakaian juga ikut mempopulerkan korset, terutama saat era Soekarno.

Namun karena munculnya bh atau bra, penggunaan korset pun mulai berkurang dan wanita banyak yang beralih menggunakan bra.

Sumber : Tempo.co

ADVERTISEMENT