Kisah Sedih Pasutri Tunawicara Tinggal di Gubuk Bambu

Dibaca: 586 kali
Gubuk Bambu Milik Pasutri yg Tinggal di Mangun Jayo, Kab. Bungo

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Kisah sangat menyedihkan, pasangan suami istri di Dusun Mangun Jayo, Kecamatan Muko-Muko Bathin VII, Kabupaten Bungo. Mereka harus berjuang supaya tetap bertahan hidup dan hanya tinggal di gubuk bambu ukuran 4×3 meter.

Pada tahun 2019 lalu, pasutri bernama Mahmud (50) dan Hilimah (32) sangat berharap tinggal di tempat yang layak seperti warga lainnya. Meski mereka ini Tunawicara, numun mereka berdua tetap semangat banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari.

Join Bagikan sembako kepada Pasutri Tunawicara di Mangun Jayo

“Dulu adik kami ini tidak memiliki KTP setelah di urus maka mereka berdua itu memiliki KTP dan KK. Tak hanya itu, ia juga katanya dulu akan dapat bantuan bedah rumah tapi hingga sekarang tak kunjung ada. Namun, dia tetap tegar walaupun hanya tinggal di gubuk kecil,” kata Nurhasiah kakak dari Mahmud.

Kini kata Nurhasiah, Mahmud dan istri tetap bekerja untuk kebutuhan hidup, ia juga mengakui kalau rumah adinya itu memang tidak layak. Tapi bagaimana lagi kondisinya seperti itu, setiap dapat uang ia terus menyisihkan uang untuk bikin batako agar rumahnya bisa berdiri layak seperti rumah yang lain.

“Yang namanya orang kecil kepinginlah memiliki rumah namun kemampuannya kan tidak sama seperti warga yang lain. Kami sekeluarga hanya bisa berdoa saja semoga saja tahun ini, ada keajaiban dari tuhan yang maha kuasa sehingga rumah adik kami ini bisa dibangun,”kata Nurhasiah dengan penuh harapan.

Pantauan sidakpost.id kondisi rumahnya itu tidak jauh beda dengan tahun 2018 lalu.  Ya masih berdindingkan bambu beratap daun. Bahkan tidur beralaskan tikar dan berlantai bambu bersama istri dan anaknya. Semua itu jauh dari kata layak untuk ditempati.

Sidakpost.id mencoba berkomunikasi dengan pak Mahmud kalau dia berusaha untuk membuat batako sendiri agar bisa membangun rumah layak huni dan itu sudah lama ia lakukan. Tampak saat sidakpost.id di lokasi terlihat tumpukan batako disamping gubuk kecil miliknya.

“Kami juga ingin membantunya akan tetapi kemampaun kami juga terbatas dan membangun rumah kan harus ada biaya yang banyak. Semoga saja tahun ini semua harapan adik kami bisa dia capai mengidamkan rumah layak huni,” kata Nurhasiah meneteskan air mata.

Keinginan pak Mahmud memiliki rumah layak huni terbukti sudah ada pondasi yang dia bangun. Tapi kondisi pondasi masih seperti awal mula dibangun tidak ada batako yang diletakkan di pondasi yang sudah dia bangun, karena dia tidak ada biaya jadi harus bersabar lagi.

Bahkan Mahmud ini juga memiliki dua orang anak, Pasian (9) dan Ilham (1) tahun. Yang anak pertama sudah kelas dua Sekolah Dasar di SD N 32/II Mangun Jayo. Mahmud juga bekerja serabutan kandang membantu membuat rumah orang dan juga sebagai buruh sadap karet. (*)

Penulis : (Redaksi)

ADVERTISEMENT