Miris.! Pasutri Tunawicara di Bungo Hanya Tinggal di Gubuk Bambu

Dibaca: 1.243 kali
Pasutri Tunawicara di Mangun Jayo, Bungo Tinggal di Gubuk Bambu.

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Hidup jauh dari kata sederhana tidak membuat pasangan Mahmud (38) dan Halimah (30) menjadi peminta-minta. Pasangan memiliki dua anak ini, hanya tinggal di gubuk bambu berukuran 4×3 meter persegi, di Kampung Suka Maju, Dusun Mangun Jayo, Kecamatan Muko-Muko Bathin VII, Kabupaten Bungo.

Mirisnya lagi, kehidupan pasangan tunawicara ini (Bisu), tidak mendapat perharhatian serius dari aparat Dusun setempat dan pemerintah daerah. Padahal tempat tinggal mereka jauh dari kata layak untuk ditempati. Karena hanya beralaskan bambu dan beratap daun, tanpa aliran listrik.

Nurhaini (60) kakak dari Mahmud tunawicara di Dusun Mangun Jayo Kecamatan Muko-Mubo Bathin VII, saat ditemui sidakpost.id, mengatakan Mahmud dan istrinya baru dua bulan ini, menempati gubuk bambu yang baru selesai dia bangun. Memang keduanya tidak bisa bicara karena Tunawicara.

“Adek kami ini, tidak memiliki rumah yang layak, hanya gubuk bambu ini saja yang dia miliki. Tak hanya itu, keduanya tidak memiliki identitas KTP. Ya mau diapakan mau mintak bantuan tidak tahu kemana,” ujar Nurhasiah.

Sebut Nurhasiah, dirinya ingin mengusulkan ke pihak Dusun agar Mahmud mendapat bantuan bedah rumah, namun tidak tahu kemana harus melapor. Padahal pernah ada informasi bahwa Bungo ada program bedah rumah bagi keluarga kurang mampu.

“Kami ingin adek kami Mahmud memiliki rumah yang layak, tapi kami tidak mengerti bagaimana caranya. Ya kami berharap semoga ada perhatian dari pemerintah dusun dan Pemda Bungo,” ujar Nurhaisah.

Bahkan kata Nurhaisah, Mahmud memiliki dua orang anak, Pasian (9) dan Ilham (1) tahun. Yang anak pertama sudah kelas dua Sekolah Dasar di SD N 32/II Mangun Jayo.” Kami sangat sedih Ia hanya tinggal di gubuk bambu yang jauh dari kata layak seperti kehidupan masyarakat lain,” ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Dusun Mangun Jayo, Sayuti dikonfirmsi mengatakan, benar ada pasangan Tunawicara tinggal di sebuah gubuk. Bahkan kata Sayuti dirinya ingin mengajukan bedah rumah, Ia tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Besok akan kita cek ulang apakah mereka sudah punya data indentitas lengkap apa belum. Nanti baru kita coba usulkan ke Kecamatan agar dapat bedah rumah. Kasian juga satu anak mereka ada yang sudah sekolah,” tukasnya. (zek)

ADVERTISEMENT