Pasca Buaya Ganas Mengamuk, Keturunan Nyai Hadijah Sang Dukun Besar, Dapat Petunjuk Seperti Ini

Dibaca: 18.181 kali
fhoto (Istimewa)

SIDAKPOST.ID, TEBO – Peristiwa yang sangat memilukan yang terjadi di Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, beberapa hari yang lalu. Pasalnya, ada tiga korban tewas akibat terkaman keganasan buaya penunggu sungai bantaghari.

Korban pertama, anak SD di Kelurahan Pulau Temiang, tahun 2017 lalu. Ibu paruh baya, di Dusun Pulau Jelmu, dan terakhir korban seorang Nenek, warga Malako Intan, dia tewas dengan kondisi sangat mengenaskan. Menyikapi kejadian tersebut, Sejarawan dan tokoh adat setempat angkat bicara.

Dainuri, Sejarawan yang mengaku masih ada hubungannya dari garis keturunan, Nyai Hadijah Dukun besar yang tinggal disebuah Kampung Dusun Jambu dimasa zaman Belanda dulu dan sekarang ini berada wilayah Kecamatan Tebo Ulu.

“Saya masih ada garis keturunan dari Nyai Hadijah, dimasa hidupnya zaman dulu Nyai Hadijah bisa menundukkan Binatang buas seperti Harimau dan Buaya dan bahkan Binatang tersebut jinak seperti peliharaannya serta diberi makan, ” ungkap Dainuri.

Bahkan Nyai Hadijah juga terlihat sangat dekat dengan buaya dan hewan lainnya, hal ini pertanda bahwa, pada zaman dahulu, buaya tidak mengganggu sama sekali.

“Yang saya tau, buaya yang ada di sungai sangat jinak, karena seekor buaya itu, tak akan mengganggu manusia, apabila habitatnya tidak pernah diganggu, itu yang pernah dikatakan ibu waktu itu, ” ungkapnya.

Sebut Dainuri, dimasa kecilnya dulu dirinya tinggal dengan ibunya di dusun Teluk Jambu melihat ibunya, Siti Rahmah akrab dengan Buaya di Sungai Batanghari dan buaya – buaya itu sering juga dikasih makan.

Begitu juga dengan Dainuri, dirinya merasa dekat dengan Buaya dan kala itu Buaya tidak mau mengganggu manusia. Saat ini Dainuri tinggal di Kecamatan Rimbo Ilir, namun Dainuri tidak melupakan kampung asal kelahirannya di Tebo Ulu.

“Saya prihatin atas mengamuknya Buaya yang menewaskan warga Tebo Ulu, saya melalui Sholat Tahajud dan mendapat petunjuk Ilham mendapat “Gergaji tanpa Tangkai ” pada malam jumat baru – baru ini,” sebut Dainuri.

Dalam makna Gergaji tanpa Tangkai itu, mengandung makna bahwa para Buaya di Aliran Sungai Batanghari habitatnya sudah terganggu. “Kita tokoh masyarakat dan tokoh adat, dalam waktu dekat akan membuat acara sakral penghormatan leluhur di aliran Sungai Batanghari,” tutup Dainuri.

Sementara Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Tebo H.Zaharudin dikonfirmasi mengatakan, masyarakat yang bermukim dipinggiran Sungai Batanghari takut dan sangat mencekam atas keganasan Buaya yang memangsa dan menewaskan warga di Tebo Ulu.

Secepatnya, dari Pemerintah atau pihak terkait dapat mengatasi Buaya ganas itu, sehingga kedepan tidak ada lagi korban manusia. Sudah tiga orang menjadi korban keganasan buaya sang penunggu sungai batanghari.

“Kita membenarkan, Dainuri Sejarawan dari Tebo Ulu yang banyak mengetahui Misteri tentang Buaya. Dari tokoh adat dan tokoh masyarakat akan mengambil langkah terkait keganasan Buaya yang sudah membuat banyak otang resah, ” ujarnya.

Langkah pertama, akan mendatangkan pawang Buaya dari Palembang, langkah kedua bersama masyarakat akan menggelar acara sakral tradisi lama membuat acara memperingati leluhur di Sungai Batanghari.

“Ya secepatnya, kami akan datangkan pawang buaya dari Palembang, untuk menaklukan buaya yang sudah memangsa tiga warga sekaligus. Besar harapan dengan seperti ini, tidak akan adalagi korban jiwa, agar warga bisa tenang dan nyaman dalam beraktifitas setiap hari,” ujar Ketua LAM Tebo H. Zaharudin. (asa)

ADVERTISEMENT


2 Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*