Pelatihan Guru Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas Cara Jasa Raharja Bentuk Agen Keselamatan di Sekolah

Jasa Raharja bersama Korlantas Polri menggelar program Pelatihan Guru Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas. Foto : sidakpost/Ratna Sari/Jasa Raharja. Selasa (20/9/2022)

SIDAKPOST.ID, JAMBI – Jasa Raharja bersama Korlantas Polri menggelar program Pelatihan Guru Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas atau Teacher Pioneer of Traffic Safety, di Manise Hotel, Kota Ambon, Selasa (20/9/2022).

Acara yang diikuti 60 guru Sekolah Dasar (SD) se- Maluku ini, dibuka oleh Kapolda Maluku, Irjen Pol. Lotharia Latif dan dihadiri Direktur Hubungan Kelembagaan Jasa Raharja, Munadi Herlambang serta Kepala Jasa Raharja Cabang Maluku, Hermanus
Haurissa.

Baca Juga :  Pertahankan Kinerja Positif, Jasa Raharja Diperkuat Komisaris Baru

Dalam sambutannya, Direktur Hubungan Kelembagaan Jasa Raharja, Munadi
Herlambang mengatakan, program Pelatihan Guru Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas, merupakan salah satu kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Jasa Raharja.

Guru yang notabene sosok pendidik sekaligus orang tua di sekolah, kata Munadi, dinilai memiliki peran penting sebagai agen yang memberi pesan keselamatan berlalu lintas kepada anak didiknya.

Baca Juga :  Jasa Raharja Tanam 20.000 Pohon di Seluruh Indonesia

“Guru ini sebagai sosok, tokoh pemberi pesan moral yang paling efektif dan paling dihormati,” kata Munadi.

Lanjutnya sebagai sosok yang paling dihormati selain orang tua di rumah, guru dapat memberikan pelajaran penting kepada anak didiknya untuk bagaimana berperilaku baik dan benar di jalan raya.

Pendidikan keselamatan berlalu lintas yang ditanamkan sejak dini, juga dapat menumbuhkan semangat tertib berlalu lintas terhadap generasi penerus di masa mendatang.

“Selain itu, para murid ini juga diharapkan akan menyampaikan kepada para orang tuannya untuk berkendara dengan baik saat di jalan raya,” ujar Munadi.

Munadi menyampaikan, bahwa berdasarkan data Kepolisian maupun Jasa Raharja, korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia, 60 persennya adalah laki-laki usia produktif.

Statistik tersebut, tentu akan berdampak buruk terhadap kondisi perekonomian keluarga, mengingat peran laki-laki sebagai tulang punggung keluarga.

“Sehingga, efeknya akan memutus rantai ekonomi keluarga. Di situlah muncul risiko kemiskinan,” jelas Munadi.