Mengenang Sejarah Rakyat Tebo, Melawan Penjajah 1945 – 1948

Dibaca: 351 kali

JANGAN LUPAKAN SEJARAH – Dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan suatu hal yang mudah khususnya di Muara Tebo. Setelah melalui perjuangan yang panjang melawan penjajahan Belanda dan Jepang pekik kemerdekaan pun berkumandang di Muara Tebo.

Muara Tebo pada saat itu merupakan wilayah yang sangat strategis dimana menjadi jalur utama dan menjadi tempat persinggahan para Tokoh – tokoh perjuangan yang datang dari Jambi ke Utara Pulau Sumatera maupun sebaliknya sehingga kabar kemerdekaan Indonesia cepat sampai di Muara Tebo.

Pada tanggal 20 Agustus 1945, dilakukan pengibaran bendera merah putih di depan kantor Gun Co Muara Tebo di bawah pimpinan dr. Syahriar Rachman. Dalam pengibaran Bendera Merah Putih tidak di iringi dengan lagu Indonesia Raya melainkan pekik kemerdekaan sebanyak tiga kali “Merdeka, Merdeka, Merdeka”.

AGRESI BELANDA I (27 Juli 1947)

Letak geografis Kabupaten Tebo yang berada di Pedalaman membuat Belanda membutuhkan waktu yang lama untuk menjangkau Kabupaten Tebo. Namun melalui jalur udara Belanda menyerang Dusun Tuo, Penyebrangan (Pelayangan) Pulau Musang, Teluk Kuali, dan Pasar Pulau Temiang.

Dengan adanya serangan tersebut, pertahanan di Muara Tebo diperkuat. Komandan Garuda Putih membentuk Kompi Merdeka di Muara Tebo dibawah pimpinan Letnan I Sayuti Makalam.

AGRESI BELANDA II (28 Desember 1948)

Belanda melancarkan agresi militer kedua dan membumi hanguskan Kota Jambi. Belanda berhasil menduduki Kota Jambi yang mengakibatkan banyak Anggota TNI, Polisi, dan Anggota Pemerintahan Sipil menuju ke Muara Tebo.

Di Muara Tebo tidak ada penampungan, mereka harus berusaha mencari tempat untuk mereka tinggal, seakan mereka kehilangan induk pasukan. Namun semangat perjuangan mereka melawan Belanda tetap membara.

Lalu, Wedana A. Manap ditugaskan ke Kewedanan Muara Tebo yang bertempat di Tebo Ulu sebelumnya ia bertugas di Muara Bungo. Dengan harapan seluruh kekuatan dapat terkoordinir, sedangkan untuk Pemerintahan Sipil Kewedanan Muara Tebo dipimpin oleh Wedana Raden Saman.

PERANAN DRAMA /SANDIWARA PERJUANGAN

Setelah membaca buku Sejarah Kabupaten Tebo terbitan tahun 2008 ada yang unik dalam mempertahankan kemerdekaan di Kabupaten Tebo.

Semangat mempertahankan kemerdekaan tidak hanya melalui dunia kemiliteran maupun pemerintahan namun juga dari Seni Budaya. Karena tidak semua Masyarakat Kabupaten Tebo saat itu memahami arti Kemerdekaan.

Untuk itu, dibentuklah kelompok seni budaya yang dikenal Tonil atau Sandiwara atau mungkin yang lebih kita kenal adalah Drama.

Kelompok Sandiwara ini di inisiasi oleh Usman Meng dkk, mereka melakukan pertunjukan ke Desa – Desa. Cara ini cukup ampuh untuk memberikan pemahaman tentang cerita perjuangan, pertempuran melawan Belanda dan kisah percintaan.

Pementasan biasanya dipentaskan hingga 4 (empat) babak. Diantara setiap babak diselingi dengan nyanyian dan tarian. Ditengah pertunjukan muncullah seorang Pejuang untuk membakar semangat rakyat untuk tetap melawan Belanda.

Perlu diketahui, tidak semua penduduk Muara Tebo memahami arti kemerdekaan pada saat itu karena disebabkan penderitaan di zaman Jepang. Mereka merindukan kejayaan ekonomi di Zaman Belanda ditambah lagi dengan upaya Belanda dalam merangkul Pasirah – Pasirah yang dulu dijadikan raja – raja kecil di daerahnya.

Saat ini tugas kita sebagai generasi muda adalah melanjutkan cita – cita para pejuang dan melestarikan warisan nenek moyang sehingga tetap terjaga kebesaran Sejarah Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung Kabupaten Tebo.

REFERENSI :
1. DHC Angkatan 45 Bungo Tebo. 1995. “Rakyat Bungo Tebo Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan”. DHC Angkatan 45 Dati II Bungo Tebo :Muara Bungo
2. Sejarah Kabupaten Tebo terbitan tahun 2008.
3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1986. “Sejarah Revolusi Kemerdekaan Jambi”. Diknas : Jambi **

PENULIS : Slamet Setya Budi, Pemerhati Sejarah Kabupaten Tebo

ADVERTISEMENT


Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*