WWF Indonesia, Latih 30 Guru SD Tebo Terkait Wawasan Lingkungan Hidup

Dibaca: 291 kali
Acara Berlangsung di Amaris Hotel Muara Bungo.

SIDAKPOST.ID, BUNGO – World Wildlife Fund (WWF) Indonesia ajak sebanyak 30 guru di sepanjang Lanskap Taman Nasional Bukit 30 Kabupaten Tebo memberi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk peserta didiknya, di Amaris Hotel, Muara Bungo, pada Minggu (22/7/2018).

Ade Lutfi selaku koordinator program pendidikan dan kesadaran lingkungan WWF Indonesia Program Jambi mengatakan, acara diselengara bertujuan untuk mendukung penghidupan masyarakat yang lestari dan membangun kesadaran terhadap lingkungan disekitar.

“Kegaiatan yang diselengara bertujuan untuk penghidupan masyarakat lestarikan membangun kedadaran lingkungan hidup. Sekaligus pengembangan kapasitas guru dalam memahami modul PLH,” ujar As Lutfi, Minggu (22/7/2018).

Sebut Lutfi, kegiatan penyusunan modul ini sudah dilakukan sejak 2015 lalu. “Dan itu yang menjadi dasar teman-teman di sekolah untuk memberikan wawasan lingkungan hidup kepada peserta didik,” ujarnya lagi.

Program WWF ini melibatkan 10 Sekolah Dasar, 9 Desa dan Perusahaan di Lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Guru-guru dari Tebo ini akan dilatih di Ballroom Hotel Amaris abungo dari 21 Juli hingga 24 Juli.

Sementara, Khairul Ardani, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo dalam kesempatan itu mengatakan, pengrusakan lingkungan sasaran kita adalah peserta didik, ini yang perlu diselamatkan.

“Kalau suda ada pemahaman seperti ini, tentu orang tua peserta didik akan bisa memahami akan pemtingnya menjaga lingkungan hidup di sekitar kita,” ujarnya.

Sekdis Dikbud Tebo Saat Membuka Acara.

Hal itu disebabkan mulai penebangan hutan, perambahan dan perburuan satwa dilindungi oleh Undang-Undang. Semua itu, disebabkan faktor ekonomi, dan keterbatasan pemahaman terkait hal tersebut.” Ya semua itu, terbentur karena sosial dan ekonomi masyarakat itu sendiri,”kata dia.

Khairul juga mengajak kepada guru yang hadir untuk mengimplementasikan modul wawasan lingkungan hidup ini. Baik pada peserta didik, hingga terhadap orang tua murid.

“Kadang-kadang anaknya memberikan arahan yang bagus. Tapi orang tuanya malah menyanggah dengan alasan kalau tidak begitu mau makan apa. Itu jadi masalah karena ada kontradiksi antara ekonomi dan sosial budaya,” katanya.

Karena itu menurut dia, perlu ada penguatan pada guru, orang tua murid dan peserta didik kita. Karena lingkungan yang ada berangusr-angsur punah.

“Tidak usah ke Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, seperti kita lihata aliran Sungai Batanghari saja sudah tercemar,” pungkasnya. (zek)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT




ADVERTISEMENT