Moment Hari Kartini Ditengah Pandemi, Bagi Masker dan Bagi Takjil

Dibaca: 370 kali

Pada tanggal 21 April selalu di peringati sebagai hari Kartini, mengapa? Karena tanggal tersebut merupakan hari lahir Sang Pahlawan Nasional, yaitu 21 April 1879. Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara, Raden mas Adipati Ario Sosroningrat dan istrinya ibu M.A.Ngasirah.

Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia, hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, dimana beberapa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan.

Hal tersebut menumbuhkan keinginan dan tekad di dalam hati Kartini untuk menjadikan para wanita di Indonesia juga mempunyai persamaan derajat yang sama dengan laki-laki, bahwa setiap wanita juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan.

Menurut Kartini, pendidikan bagi seorang perempuan sangatlah penting karena perempuan lah yang pertama kali akan memikul sebagai pendidik, menjadi seorang ibu kelak akan mendidik anak anaknya menjadi generasi yg memiliki berbudi pekerti yang baik ,cerdas dan berprestasi.

Dengan demikian, anak perempuan harus mengenyam pendidikan yang baik pula agar kelak bisa menjalani tugas dalam mendidik anak-anaknya.
Perjuangan R.A Kartini Sebagai seorang bangsawan, R.A. Kartini berhak memperoleh pendidikan.Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini di ELS (Europese Lagere School) ,disekolah itu Kartini belajar bahasa Belanda.

Namun, pada masa itu,anak perempuan harus tinggal di rumah untuk ‘dipingit’. Alhasil, Kartini hanya bersekolah hingga usia 12 tahun. Disinilah sejarah perjuangan R.A. Kartini bermula selama tinggal di rumah, Kartini belajar sendiri dan mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda.

Kartini mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang kemajuan berpikir perampuan Eropa.Kegemarannya membaca buku membuat Kartini mendapatkan leestrommel,Ketertarikannya dalam membaca kemudian membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahun dan kebudayaan.

Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Ayah Kartini Adipati Ario sosroningrat mengerti akan cita cita Kartini ,ia memperbolehkan Kartini unuk membangun sebuah sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Beberapa hari kemudian Kartini menghembuskan nafas pada 17 September 1904.

Berkat kegigihan R.A. Kartini, kemudian didirikan “Sekolah Kartini”, Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912 dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.

Wafatnya Kartini tidak serta mengakhiri perjuangnya, salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Namun, pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda ,Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya. Pemikiran Kartini banyak mengubah pola pikir masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi ketika itu.

Presiden Soekarno sendiri kala itu mengeluarkan instruksi berupa Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, yang berisi penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Soekarno juga menetapkan hari lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini sampai sekarang.
Dengan begitu pada tanggal 21 April di peringati sebagai hari Kartini ,Sebagai bentuk penghormatan, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk dapat memperingati Hari Kartini, biasanya setiap sekolah atau perkantoran sebagai bentuk penghormatan menyanyikan lagu ibu kita Kartini” ,untuk memeriahkan moment nasional ini biasanya diadakan berbagai lomba ,seperti lomba baca puisi , fashion show memakai baju kebaya , pertunjukan drama dll.

Namun untuk sekarang ini kegiatan kegiatan itu tidak bisa kita lakukan dikarenakan pandemi yang membuat semangat nasionalisme dalam moment nasional ini berkurang , namun kita sebagai pemuda harapan bangsa jangan sampai pudar semangat nasionalisme karena di tengah masa pandemi, peran pemuda sangat penting kita berbagi masker selain itu moment kartini tepat di bulan ramadahan kita bisa berbagi takzil atau santunan anak yatim piatu (*)

PENULIS : Latifah Indriyani Calon mahasiswa baru Universitas Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Sosiologi.

ADVERTISEMENT