Nyuluh di Lingkungan SAD, Begini Perjuangan Pujiono Penyuluh PAI Non PNS

Dibaca: 387 kali
Pujiono Seorang PAI Non PNS, KUA Kec.Pelepat Saat Menyuluh di Lingkungan Suku Anak Dalam (SAD).

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Salah seorang tenaga Penyuluh Agama Islam (PAI) Non PNS lingkup Kementerian Agama Kabupaten Bungo, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pelepat, Pujiono (54) mengungkapkan kisah selama ia menjadi Penyuluh Agama Isalam Non PNS.

Dikonfirmasi Pujiono mengungkapkan, bahwa selama dia bertugas di lokasi rumah suku anak dalam, Kecamatan Pelepat, Dusun Dwi Karya Bhakti itu berbagai kendala terus dia lalui.

Ibu-Ibu dan Anak Suku Dalam Saat Praktek Sholat Bersama Penyuluh PAI Non PNS Pujiono.

“Ya kalau malam habis Sholat Magrib kegiatan seperti biasa mengajar mengaji serta praktek Sholat kepada anak-anak muda Suku Anak Dalam yang sudah sah memeluk agama islam. Karena saya bersama keluarga tinggal bersama suku dalam ini, jadi untuk kegiatan penyuluhan tetap dilaksanakan setiap hari, ” ujar Pujiono.

Dikatakannya, kalau untuk Mushola di sekitar tempat suku dalam ini, belum ada. Akan tetapi kegiatan penyuluhan dilakukan di sebuah ruang kosong. Nah disinilah setiap hari kegiatan itu dilakukan.

“Kalau untuk air, saya masih menggukanakan mesin robin yang saya miliki untuk air agar bisa ber wudhu. Sedangkan untuk sarana listrik kita belum ada, selama ini masih memakai mesin genset yang saya punya,” ungkap Pujiono lagi.

Sebutnya, apapun kondisi yang ditemukan tetap penyuluhan dilakukan kepada anak-anak suku dalam tempat binaan. Tercatat sudah 27 KK suku anak dalam sudah memeluk agama islam sedangkan yang belum ada 9 KK lagi.

“Bagi anak-anak yang sudah muslim setiap malam kita ajarkan mengaji sekaligus praktek sholat. Besar harapan semua anak suku dalam ini, bisa memahami agama islam lebih dalam lagi, ” kata Dia.

Dia juga berharap agar sarana ibadah yang ada di komplek kampung Sungai Kelukup di Suku Anak Dalam (SAD) bisa dibangun, seperti listrik Mushola serta sarana lainnya, agar suku dalam yang dia bina bisa lebih semangat untuk belajar.

“Apapun kondisi yang saya temukan kegiatan penyuluhan tetap dilaksanakan. Karena ini merupakan tugas mulia yang telah dipercayakan oleh, Kementerian Agama kepada saya. Meski gaji yang saya terima Rp 500 ribu per bulan, namun syiar agama islam tetap dilaksanakan sesuai tugas pokok seorang penyuluh kepada disetiap binaan, ” tukasnya. (zek)

ADVERTISEMENT





ADVERTISEMENT