Miris!! 80 Siswa-Siswi Madrasyah di Tebo Belajar di Lantai

Dibaca: 457 kali
Inilah Kodisi Siswa Madrasyah Ibtidaiyah di Desa Sungai Bengkal Barat, Tebo Harus Rela Belajar di Lantai Karena Tak Ada Meja Dan Kursi.

SIDAKPOST.ID, TEBO – Puluhan Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Jalal, di Desa Sungai Bengkal Barat, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, harus rela belajar dilantai.

Pasalnya, siswa rela belajar dengan kondisi duduk di lantai atau berlesehan. Alasannya, karena sekolah ini gratis. Kalaupun ada siswa yang membayar, itu karena keikhlasannya.

Setiap hari, para siswa ini harus rela belajar dalam kondisi seperti itu, karena mereka ingin belajar ilmu agama untuk masa depan yang lebih baik. Kondisi seperti ini, sudah terjadi sejak sekolah madrasah ini berdiri.

Junaidi, (67) salah satu guru yang sudah lama mengajar di madrasah tersebut dikonfirmasi mengatakan, kondisi belajar dilantai ini sudah lama. Namun hingga kini belum ada juga bantuan kursi maupun meja dari kementerian agama kabupaten tebo maupun dari pemerintah desa.

“Murid kami terpaksa belajar dilantai pak, karena tidak ada kursi dan meja. Padahal sebelumnya sudah pernah diajukan ke pihak desa namun hingga kini tak ada realisasinya,” ungkap Junaidi, Minggu (19/11/2017).

Tak hanya itu, masalah gaji guru yang mengajar juga tergantung dari anggaran dana desa, yang pernah diberikan, sebesar Rp.150 per bulan. Dan mendapat gaji selama tiga bulan sekali.

“Jadi selama tiga bulan kami menerima gaji sebesar Rp. 450 ribu. Namun kondisi seperti ini hanya sebentar saja, entah kenapa pihak desa tak mau lagi menganggarkan gaji guru yang mengajar di madrasah ini,” ujarnya lagi.

Tak hanya Junaidi, guru lain Holidi,S.Kom.I juga berharap agar Kementerian Agama Kabupaten Tebo, serta pemerintah desa peduli dengan kondisi yang sedang terjadi. Karena fasiltas untuk belajar sangatlah minim.

” Ya kami berharap di 2018 nanti murid kami tak lagi belajar dilantai. Setidaknya bisa belajar seperti sekokah madrasah yang lain. Padahal jumlah murid kami mencapai 80 orang dari kelas satu, dua an kelas tiga,” ucapnya.

Sebut Holidi, keterbatasan itu justru dijadikan sebagai pemacu untuk tetap mengembangkan dunia pendidikan ilmu agama. Kendati hanya tiga orang guru yang mengajar, semangat juang bagi guru yang mengajar tetap kokoh.

”Kisah perjuangan madrasah ini layak dijadikan inspirasi bagi kita semua bahwa tidak ada kata menyerah untuk memajukan masa depan anak-anak bangsa. Apapun kondisinya kami tetap berupaya mengajar sebaik mungkin,” katanya. (muri)

ADVERTISEMENT





ADVERTISEMENT