Awalnya Air Sungai Tenang, Tapi Seret 11 Siswa Mts Hingga Tewas

Dibaca: 477 kali
Foto sungai cileueur, Kab. Ciamis (istimewa)

SIDAKPOST.ID – Tragedi tewasnya 11 siswa MTs Harapan Baru di Sungai Cileueur, Ciamis, Jumat (15/10/201), menyisakan pertanyaan, mengapa air tenang sungai tiba-tiba menjadi ganas hingga menyeret para korban.

Sebelumnya, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menceritakan detik-detik 11 siswa MTs tersapu arus deras Sungai Cileueur.

Kata Herdiat, air sungai di lokasi itu awalnya tenang hingga kegiatan susur siswa berjalan baik.

Namun tiba-tiba, arus menjadi kuat dari hulu ke muara sungai (hilir) hingga menyeret peserta susur sungai. Sebanyak 11 siswa tewas tenggelam.

“Memang kondisi airnya itu tenang, diduga 11 orang pelajar ini terbawa arus yang kuat dan menuju muara sungai. SAR gabungan menemukan para korban berada di sana, semuanya,” kata Herdiat.

Karakter Sungai Cileueur

Sementara itu, pegiat sekaligus pelatih Kayak Arus Deras, Nanang Kuswara menjelaskan, air tenang berubah menjadi ganas karena terjadi hujan di hulu.

Ia menjelaskan, Sungai Cileueur yang menjadi lokasi tragedi itu merupakan anak Sungai Citanduy. Sungai tersebut memiliki karakter kemiringan cukup curam dan penampangnya sehingga ketika air bah muncul, alirannya sangat cepat.

“Tingkat kemiringan Sungai Cileueur lumayan curam dari hulu ke hilir, ketika air bah datang, arusnya cepat. Seperti Citanduy (induk Cileueur), karakternya full drop dan penampang sempit, ketika air bah muncul, itu cepat,” kata Nanang kepada Kompas.com via sambungan telepon, Sabtu (17/10/2021).

Nanang menjelaskan, di Tasikmalaya dan Ciamis, sebenarnya ada dua sungai besar, yakni Citanduy dan Ciwulan. Kedua sungai itu memiliki sejumlah anak sungai.

Sungai Cileueur merupakan anak Sungai Citanduy yang memiliki karakter kurang lebih sama, yakni kemiringan curam sehingga ketika terjadi hujan di hulu, air bah melaju dengan cepat.

Sementara Sungai Ciwulan relatif tingkat kemiringannya landai, sehingga ketika di hulu terjadi hujan, maka air relatif cukup lama untuk sampai ke hilir.

Menurut Nanang yang sudah puluhan tahun aktif di dunia kayak arus deras, untuk melakukan susur sungai atau kegiatan lain berkaitan dengan sungai, mestinya harus disertai dengan persiapan matang.

Selain kemampuan mumpuni, juga harus melihat situasi. Biasanya, kata dia, para pegiat kayak selalu melihat situasi sebelum terjun ke sungai dengan berkoordinasi ke orang-orang di hulu.

“Kami memiliki contact person orang-orang di hulu. Jadi sebelum terjun, kami selalu berkoordinasi. Jika di hulu terjadi hujan, maka kami akan tahu dan sangat hati-hati. Kalau sekiarnya berbahaya, lebih baik dibatalkan,” kata Nanang.

Ia menyebutkan, ada waktu yang kegiatan sungai mutlak dihentikan, yakni sore hari maksimal jam 17.00. Jam-jam itu, Nanang menyarankan jangan ada kegiatan di sungai.

“Kalau nggak salah kejadian kemarin waktunya sore. Mestinya jangan ada kegiatan di sungai. Walaupun lagi senangnya tapi tak peduli. Harus dihentikan,” katanya.

Ia juga menyayangkan pihak panitia yang tidak melibatkan orang profesional dan berpengalaman dalam kegiatan di sungai. Sebab, untuk melakukan susur sungai ada teknik-teknik khusus, tidak sembarangan.

“Padahal kalau pihak panitia berkoordinasi dengan kami pegiat sungai, akan dibantu,” kata Nanang.

Ia mengatakan, selama ini, tidak pernah terjadi kecelakaan yang menimpa para pegiat sungai di Tasikmalaya, Ciamis dan sekitarnya.

“Nyaris zero accident untuk pegiat kayak atau kegiatan lain di sungai-sungai Tasikmalaya, Ciamis dan sekitarnya. Karena memang ada persiapan matang dan teknik-teknik tertentu sebelum terjun ke sungai,” katanya.

Kendati demikian, Nanang menyampaikan duka cita kepada keluarga para korban tragedi susur sungai. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan ini.

“Kami atas nama pegiat kayak arus deras menyampaikan duka cita kepada para keluarga korban meninggal,” kata Nanang mengakhiri wawancara via telepon. (*)

Sumber : http://Kompas.com

ADVERTISEMENT