Pembelajaran di Masa Pandemi dan Sisi Psikologis Anak

Dibaca: 233 kali

Hari Anak Internasional (Children’s Day) pertama kali digagas pada tahun 1954 di tanggal 20 November. Hari ini menjadi hari yang penting untuk mengkampanyekan kesejahteraan anak, menghormati anak dan meningkatkan kesadaran akan hak-hak anak. Indonesia pada 23 Juli setiap tahunnya turut merayakan Hari Anak, pada tahun 2021 di masa pandemi Covid-19 ini, Indonesia menggagas tema “Anak terlindungi, Indonesia Maju”.

Tema ini tentunya memiliki makna besar bagi perayaan hari anak di tengah pandemi. Sebagaimana yang terjadi saat ini, anak menghadapi kendala dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Hingga saat ini pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam merespon hal ini. Terakhir, guna optimalisasi kualitas pendidikan bagi anak, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendorong satuan pendidikan untuk melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di daerah yang memiliki level 1-3 dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia.

Keputusan ini tertuang dengan jelas dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang pelaksanaan PPKM berlevel yang dikeluarkan pada Kamis (09/09/2021).

Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih dalam beberapa kesempatan menyatakan secara nasional di seluruh jenjang pendidikan, total ada sekitar 39% dari 270 ribu satuan pendidikan yang telah melaksanakan PTM terbatas.

Dalam menyukseskan peraturan baru ini, untuk memperkecil kemungkinan penyebaran Covid-19, seluruh stakeholder pendidikan diharuskan untuk bekerja sama bahu membahu dalam memastikan implementasi peraturan ketat pelaksanan PTM terbatas di sekolah.

Setelah pemerintah memberlakukan aturan baru dan sosialisasi untuk teknis pelaksanaannya bagi seluruh Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota, satuan pendidikan di daerah harus merespon hal ini salah satunya dengan membentuk Satgas Covid-19 khusus sekolah untuk memastikan penerapan ketat protokol kesehatan selama Covid-19 di sekolah.

Data per awal November 2021, ada sekitar 3050 sekolah di DKI Jakarta yang siap menggelar PTM terbatas yang dijadwalkan berlangsung 2 jam per hari dan dilaksanakan sebanyak 2 kali dalam seminggu.

Pembelajaran daring yang diberlakukan selama lebih dari setahun menberikan dampak negatif yang cukup besar, salah satunya bagi psikologis anak. Ini juga menjadi tantangan besar bagi guru selama ini karena guru dituntut untuk mampu mengelola desain belajar yang harus mampu diterima dan dimengerti oleh murid.

Walaupun sudah berusaha demikian rupa, tetap saja penerapan belajar online selama ini memiliki kesulitan-kesulitan. Diantaranya yaitu murid yang tidak memiliki gadget untuk dapat terhubung dengan belajar daring ditambah jaringan internet yang tidak memadai.

Pada realitanya tidak sedikit orang tua yang juga tidak paham mengenai penggunaan teknologi internet. Sehingga menjadi persoalan dan kendala bagi anak ikut belajar secara daring dari rumah.

Selanjutnya, minimnya interaksi guru dan murid dalam pembelajaran daring. Banyak data yang menunjukkan bahwa murid kesulitan dalam mengerjakan tugas dikarenakan kurang pemahaman akan penjelasan-penjelasan pembelajaran dari guru.

UU Nomor 23 tahun 2002 Pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.” Menyorot sisi psikologi anak, dalam UU ini disebutkan bahwa anak berhak memperoleh pendidikan, sehingga dapat kita simpulkan bahwa belajar adalah hak dan bukan kewajiban bagi anak itu sendiri.

Disini peran orang tua sangat vital dalam mendorong semangat belajar anak, orang tua harus berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik bersama guru untuk memacu semangat belajar anak, bukan hanya menuntut sehingga menambah tekanan belajar bagi anak.

Belajar dalam suasana yang menyenangkan tentunya memberikan efektivitas yang baik dalam peningkatan belajar anak. Data menyebutkan bahwa 13% anak Indonesia terkena depresi karena tekanan orang tua saat belajar dari rumah dalam masa pandemi.

Orang tua harusnya kreatif dalam membimbing anak dalam belajar, terlebih lagi, saat ini diberlakukan PTM terbatas, tidak hanya melalui pembelajaran daring seperti sebelumnya, guru dan orang tua harus bertanggungjawab dalam memperbaiki psikologis anak akibat pembelajaran daring selama ini.

Selain itu UU Nomor 23 tahun 2002 pada pasal 10 disebutkan bahwa anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya. Untuk itu, kita harus belajar untuk mampu memberikan kesempatan bagi anak untuk menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usia mereka dalam belajar dan pengembangan diri.

Sejatinya, dalam masa pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya, perlu edukasi serius bagi orang tua dalam mendukung proses pembelajaran bagi anak.

UU sendiri telah menjamin hak anak dalam menuntut ilmu, tidak hanya itu bahkan dalam pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 2002 juga menyatakan bahwa anak harus diberikan hak beristirahat dalam waktu yang telah ditetapkan.

Anak berhak memiliki waktu untuk bergaul serta bermain, ini juga turut mendukung efektivitas belajar bagi anak. Sebagaimana yang ditetapkan pemerintah, saat ini pembelajaran bagi anak tidak terlalu menekankan pada kurikulum seperti sebelum pandemi Covid-19, saat ini diberlakukan kurikulum darurat demi tetap menjalankan proses belajar mengajar bagi murid sebagaimana UU menjamin hak anak dalam mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya. Selamat Hari Anak Internasional.

Asry Almi Kaloko
Koordinator Divisi Komunikasi LINKKAR (Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah)

ADVERTISEMENT