Kisah Sultan Thaha dan Politik Anak Muda Zaman Now

Dibaca: 390 kali

ANAK MUDA ZAMAN NOW – Anak Muda bisa apa.? Anak muda gak usah politik – politikan yang penting sekolah saja ? Anak muda gak ada pengalaman.?

Dalam menanggapi rasa pesimisme terhadap anak muda dalam kontestasi politik, mengingatkan penulis kepada Sejarah masa lampau yaitu sejarah besar di Bumi Jambi.

Penulispun kembali membuka Buku yang didapatkan dari salah satu Universitas terkemuka di Jambi karya Elsbeth Locher Sholten yang berjudul Sumatran Sultanate and Colonial State : Jambi and The Rise of Dutch Imperialism 1830 – 1907.

Bahasan Praktek Antisipasi : Perebutan Kekuasaan Pada Tahun 1855. Setelah mangkatnya Sultan Nazaruddin pada tanggal 18 Agustus 1855 diangkatlah Sultan baru yang bernama Thaha Saifuddin pada Oktober 1855 yang akan menjadi musuh utama pemerintahan Kolonial Belanda di Jambi.

Digambarkan Sultan Thaha Saifuddin pada saat itu ialah seorang “Anak Muda” karena dinobatkan saat masih berusia dua puluh tahunan.

Banyak sumber yang menyebutkan beliau lahir tahun 1833. Kala itu tidak sedikit yang meragukan kemampuan Anak Muda, meskipun demikian Sultan baru ini patut untuk diperhitungkan.

Langkah awal dalam memperbaiki kesultanan justru beliau tidak mau menerima pusaka jabatan barunya sebelum Sultan Nazaruddin mengusir selir yang berpengaruh besar tehadap Sultan.

Sultan Taha juga memiliki pengetahuan politik yang luas bahkan hingga ke Turki. Namun, sangat disayangkan dalam menggambarkan deskripsi fisik dan psikologi para penguasa lokal Jambi jarang dicatat dalam laporan pejabat – pejabat Eropa.

Pada tahun 1880, Laging Tobias menggambarkan Sultan Thaha Saifuddin berperawakan kokoh, leher pendek, agak gemuk, energik, bertempramen panas dengan Belanda.

Namun dibalik itu semua Sultan Thaha juga memiliki ketulusan, komitmen, tidak mudah percaya terhadap orang asing, diplomatis, tegas, dan yang paling penting adalah konsisten antara ucapan dan perbuatannya.

Dalam kontestasi politik 2019 seharusnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk diberikan rasa optimisme dan memandang anak muda adalah kekuatan.

Memang tidak dipungkiri kepercayaan terhadap anak muda sebagai Wakil Rakyat maupun pemimpin masih tergolong rendah padahal jumlah pemilih Anak Muda setiap tahun meningkat.

Anak muda malas berpolitik bukan berarti mereka tidak suka berpolitik namun dalam realita yang kita lihat politik dipandang sebuah keruwetan, hoak, sekedar janji, bahkan ongkos besar.

Anak muda dengan berbagai talenta mereka mewujudkan gagasannya pada komunitasnya, organisasi sosial dan masyarakat dan LSM.

Itu tidak salah karena itu merupakan bagian terhadap pembangunan bangsa dan negara. Lantas apa yang merubah untuk mewujudkan optimisme terhadap anak muda?

Kita letakkan posisi anak muda sebagai sebuah kekuatan, ingat pepatah mengatakan generasi muda penerus bangsa. Jika pemuda ingin melek politik maka didik sejak muda bagaimana berpolitik yang baik dan itu adalah tanggung jawab generasi sebelumnya.

Siapa yang menyangka Sultan Thaha Saifuddin akan menjadi Pahlawan Nasional bahkan namanya tersohor hingga ke negeri jiran.

Berikan anak muda kepercayaan untuk mengembangkan potensinya, berikan arahan dan contoh yang baik, bukan tidak mungkin 2019 akan lagir generasi muda yang berjiwa seperti Sultan Thaha Saifuddin.

PENULIS : Slamet Setya Budi, Pemerhati Sejarah dan Politik di Tebo

ADVERTISEMENT


Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*