Penyakit Ngorok Pada Kerbau Resahkan Peternak di Bungo

Tampak Petugas Dsnakan Kabupaten Bungo Sedang Melakukan Vaksinasi, SE kepada Kerbau Milik Masyarakat yang sudah dikarantina. Rabu (11/01). Foto : sidakpost id/zakaria

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Penyakit ngorok atau lebih dikenal septicaemia epizootuca (SE) pada kerbau meresahkan pemiliknya. Karena dapat menyebabkan kematian pada kerbau milik masyarakat.

Seperti yang terjadi di Dusun Mangun Jayo Kecamatan Muko-Muko Bathin VII, Bungo. Akibat penyakit ngorok banyak peternak alami kerugian kehilangan hewan ternak mereka karena banyak yang mati.

Informasi diperoleh dari warga setempat sudah banyak bangkai kerbau dipinggir sungai batang Bungo. Tentu ini, sangat membingungkan masyarakat yang biasa memelihara kerbau, karena sudah banyak yang mati begitu saja.

“Di pinggir sungai batang Bungo ada lima ekor lebar yang sudah menjadi bangkai. Ini sangat meresahkan banyak pemilik ternak kerbau di Mangun Jayo. Karena sebelum ini tidak ada kerbau yang mati seperti ini,” ucap, Sofa warga sekitar, Jumat (13/01).

Ia berharap agar dinas terkait segera ikut mengatasi permasalahan penyakit ngorok pada hewan ternak milik warga ini. Karena bila tidak, dipastikan banyak lagi kerbau di dusun Mangun Jayo yang mati begitu saja.

“Kalau sudah seperti ini, mau diapakan lagi dan yang lebih mengerti tentang penyakit kerbau milik banyak warga di sini hanya dinas Peternakan. Kasian juga melihatnya kerbau mati begitu saja,” tutupnya.

Terpisah, Plt Kepala Disanakan Kabupaten Bungo, Kuswen menjelaskan, memang ini sasarannya kepada hewan ternak kerbau. Kasus ini juga terjadi di Sepunggur serta di Bathin III Ulu. Untuk di Mangun Jayo sudah ada laporan dari petugas yang di lapangan.

“Kami sudah banyak melakukan vaksinasi kepada kerbau milik masyarakat, memang kalau tidak cepat divaksinasi maka kerbau bisa mati mendadak. Penyakit pada hewan itu disebabkan karena bakteri pasteurella multocida serotype atau penyakit ngorok,” ucap Kuswen.

Dijelaskan, penyakit ngorok ini berjangkit sudah lama, akan tetapi dengan kondisi musim hujan dan panas datang, maka mengakibatkan hewan ternak stres, dan penyakit ini bisa menular sesama hewan ternak.

Menurut Kuswen, Dinas Peternakan Bungo sudah turun ke lokasi kerbau mati terpapar SE. Pada kerbau yang belum terpapar ini harus divaksin. Sulitnya untuk karantina kerbau milik masyarakat, membuat vaksin kepada kerbau kesulitan.

“Jadi kendalanya itu kerbau peternak yang mati tidak mendapat vaksin. Sebelum ini sudah pernah kita himbau agar masyarakat yang memiliki kerbau untuk segera vaksin, supaya tidak terpapar virus. Petugas kami akan terus memantau ke lapangan untuk mengatasi penyakit ngorok ini,” tutupnya. (zek)