Mengintip Jaringan Germo Kota Bungo (Bagian I)

Tarif Long Time Bisa Tembus Rp 1,5 Juta

Dibaca: 3.017 kali
KOTA BUNGO – Tampak salah satu titik lokasi Kota Bungo.  Bisnis esek - esek di Kota Langkah Serentak Limbai Seayun ini, bergerak dinamis, seiring menjamurnya berbagai kawasan hiburan malam.

BERPROFESI sebagai Germo, diyakini Sutarman (45), (nama sengaja disamarkan,red) bukanlah cita citanya sejak kecil. Alih – alih, tak memiliki keahlian lain, membuat pria berperawakan sedang ini, menggeluti profesi tersebut, demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

ZAKARIA – BUNGO

Saat malam tiba, disanalah saatnya Sutarman bekerja. Dengan tampilan pakaian yang sedikit perlente, sutarman pun, melakukan pengecekan para wanita panggilanya  yang kapan pun siap untuk melayani para pria pencari kenikmatan sesaat.

Menurut Sutarman, canggihnya teknologi saat ini, cukup membantu dirinya untuk mengkruscek keberadaan para dayang dayang bayaran tersebut .” Kita ngecek lewat telpon ponsel saja,  apakah mereka siap untuk melayani para tamu, saat ada pesanan tamu melalui dirinya ,” timpalnya, sambil mengisap rokoknya dalam dalam.

Saat ini, lanjut Sutarman sedikitnya terdapat 30 wanita dari berbagai profesi, yang berada dibawah asuhanya untuk bisa mendapatkan job. ( Istilah pekerjaan para wanita panggilan, red).

“Macam macam mas, keberadaan mereka, ada yang  berstatus sebagai mahasiswa, hingga para janda-janda muda yang terhimpit ekonomi ,” timpalnya.

Biasanya, sebelum mendapatkan kenikmatan sesaat dari para wanita panggilanya, pola yang dilakukan tamu cukup berpariasi. “ Ada  tamu yang minta wanita panggilan tersebut, minta bersenang senang dulu lewat jasa karouke,  setelah itu baru memboking cewek. Nah, urusan Boking ini, tarifnya mulai  Rp 750 Ribu untuk jasa short time hingga Rp 1,5 Juta untuk jasa layanan kenikmatan longtime,” ungkapnya.

Sutarman  Mengaku, jika uang tersebut tidak seutuhnya didapat para wanita panggilan dibawah asuhanya tersebut .

”Misal untuk tarif short time,  Rp 750 Ribu, saya menerima Rp 250 Ribu, dan wanita panggilanya sekitar Rp 400 Ribu. Dan sisa Rp 100 Ribu biasanya akan diserahkan dengan Satpam hotel, untuk memperlancar bisnis esek esek terselubung ini. Jika Satpam hotel enggak diberi, maka kita akan kesulitan untuk menembus para wanita panggilan tersebut, masuk ke dalam berbagai hotel  tempat para tamu menginap,” timpalnya.

Sisi lain,  Sutarman mengaku, tidak semua tamu yang memboking wanita panggilannya, memiliki niat baik. Tak jarang  para tamu justru melakukan perbuatan diluar dugaan hingga penganiaan terhadap para wanita malam itu .

” Mulai dari aksi mencuri berbagai perkakas wanita malam, hingga tidak membayar usai dilayani. Makanya kita harus sedikit selektif, terhadap pada tamu. Kalau tamu baru, biasanya kita cari informasi dahulu terkait keberadaan tamu tersebut, apakah tamu tersebut benar benar mau boking cewek atau punya modus lain,” bebernya.

Karena jika itu terjadi, maka yang repot pihaknya juga.” Kita juga yang susah, setidaknya kita wajib membantu wanita panggilan yang kemalagan tersebut, dampak dari peristiwa yang menimpah dirinya,” ketusnya.

Disisi lain kata Zasramansyah,SH Ketua OKP SAPMA PP Cabang Bungo, saat ditemui disela-sela kesibukan sehari-hari nya,ia mengatakan, sangat prihatin dengan menjamurnya hiburan malam yang bertentangan dengan adat istiadat Kabupaten Bungo itu sendiri.

“Apakah harus kita biarkan seperti ini terus menerus kemaksiatan meraja lela di Kabupaten Bungo ini, sambil menegguk segelas kopi disebuah warung kopi disudut Kota Bungo,” ungkapnya. Bersambung. (*)

ADVERTISEMENT







ADVERTISEMENT