Diduga Gadis Tunawicara di Bungo Dicabuli Paman Sendiri

Dibaca: 619 kali
ilustrasi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Malang nasib seorang gadis Tunawicara, Melati (14) warga Kampung Baru, Dusun Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, dia menjadi korban pencabulan yang dilakukan paman sendiri berinisial M.

Perbuatan memilukan itu, terungkap saat korban sedang bersama teman-temannya, pada waktu bersamaan pelaku M lewat seketika korban yang melihat pelaku langsung menangis seakan ingin menceritakan sesuatu.

“Kami lagi bersama korban, tiba-tiba lewat M yang tak lain paman korban, entah kenapa Melati langsung menangis ketika melihat M. Saat itu juga korban menceritakan bahwa dirinya sudah diperkosa, dengan bahasa isyarat telapak tangan,” ujar Fitri yang tal lain teman korban.

Sebut Fitri, korban menceritakan bahwa pelaku mencabulinya dirumah kosong, yang tak jauh dari rumah korban, pada kamis (6/12) dan itu sudah yang kedua kalinya.

Mendengar cerita korban, Fitri langsung menceritakan kepada orang tua korban. Tak terima, Zainal Abidin (34) ayah kandung korban langsung melaporkan kejadian yang dialami anaknya ke Rio (kades) setempat.

Suprianto Rio Dusun Dwi Karya Bakti membenarkan adanya keluarga korban datang kerumahnya melaporkan perbuatan keji yang dialami korban. Mengingat kasus ini sudah melanggar hukum maka Suprianto menyarankan untuk melapor ke pihak kepolisian.

“Betul orang tua korban bersama keluarga lainnya datang ke rumah saya menceritakan kejadian yang dialami korban, karna ini berkaitan dengan hukum maka langsung saya anjurkan untuk melapor ke pihak kepolisian,” jelas Suprianto.

Sementara iru, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Bungo, Aiptu Beni F ketika dikonfirmasi sidakpost.id mengatakan, korban bersama kedua orang tuanya telah mendatangi Polres Bungo. Hanya saja, korban belum melaporkan kejadian percabulan.

“Korban dan kedua orang tua, Sabtu (08/12) telah datang ke Unit PPA, namun belum melaporkan kejadian karena terkendala bahasa. Korban tidak bisa bicara dan juga tidak bisa mendengar,” ujar Beni F.

Dijelaskan Beni, korban dan kedua orang tua akan melaporkan pada Senin (10/12) sekaligus melakukan visum. Saat melaporkan kejadian akan didampingi guru dari Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Karena keterbatasan, nanti yang akan melapor kedua orang tua dengan didampingi guru dari SLB, karena kami kesulitan meminta keterangan dari korban,” pungkas Beni. (zek)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT




ADVERTISEMENT