Melirik Fenomena Lebaran Ketupat, di Eks Transmigrasi Rimbo Bujang

Dibaca: 375 kali
H.Sriyono HS Ketua Lembaga Adat Rimbo Bujang, berselayang pandang seputar lebaran ketupat. Foto : sidakpost.id/Amir Said

SIDAKPOST.ID, TEBO – Bertepatan hari Selasa 09 Mei 2022, tak terasa lebaran Idul Fitri 1443 hijriah memasuki hari ke tujuh dan pada lebaran ketujuh ini pula, tradisi atau budaya orang jawa yang tak pernah lekang di panas tak lapuk di hujan dan tak pernah tergerus oleh kemodernan zaman hingga kini terus dirayakan atau dilestarikan.

Seperti fenomena di eks transmigrasi di wilayah Rimbo Bujang Kabupaten Tebo sekitarnya, pada lebaran ketujuh ini atau yang dikenal lebaran ketupat masih dirayakan oleh sejumlah masyarakat dengan khas ketupatnya yang menjadi tradisi peninggalan leluhur atau para pendahulu.

H.Sriyono HS, Ketua Lembaga Adat di Rimbo Bujang ketika dibincangi sidakpost.id menyebutkan, bahwa ketupat merupakan tradisi saat berhari Raya Idul Fitri dihari yang ketujuh. Bahkan ketupat pertama kali dikenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga (wali songo) kepada masyarakat yang berada di pulau jawa pada saat itu.

”Kanjeng Sunan Kalijaga mengenalkan dua kali Bakda yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Ketupat, Bakda Ketupat dimulai seminggu sesudah lebaran, banyak di rumah umat muslim orang jawa membuat menganyam ketupat dari daun kelapa muda dan setelah dianyam ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan, “katanya.

H.Sriyono HS juga mengatakan, makna kata Ketupat dalam filosofi jawa yakni Ngaku Lepat atau ngaku salah dan Laku Papat atau Tindakan empat.

”Implementasi ngaku lepat atau salah dengan bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun atau saling bermaafan kepada sesama, laku papat atau tindakan empat yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan,” tutup Sriyono HS. (asa)

ADVERTISEMENT