Erupsi Gunung Semeru, Puan Berharap Kebutuhan Warga Terpenuhi

Dibaca: 152 kali

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Bagaikan suara petir di siang bolong, bencana erupsi Gunung Semeru terjadi pada Sabtu, (4/12/2021). Dalam video amatir yang beredar, masyarakat tumpah ruah meninggalkan rumahnya ketika erupsi Semeru terjadi sampai – sampai warga panik berhamburan dengan kejadian tersebut.

Sampai saat ini, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan melalui data Pusdalops, sebanyak 22 orang meninggal dunia akibat awan panas guguran Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sebanyak lima dari total korban meninggal belum bisa diidentifikasi.

“Data pukul 17.30 WIB, jumlah korban meninggal yang dilaporkan Pusdalops BNPB itu 22 orang,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muharir.

Ia memerinci, korban meninggal dunia yang dilaporkan 14 orang di Kecamatan Pronojiwo dan delapan orang di Kecamatan Candipuro. Korban meninggal di Kecamatan Pronojiwo, terdapat lima jenazah yang belum teridentifikasi, sedangkan dua jenazah sudah berada di RSUD Pasirian dan tiga jenazah lain ditemukan di RT 16/05 Curah Kobokan, sekitar pukul 14.15 WIB.

“Sembilan korban lain di Kecamatan Pronojiwo sekarang sudah dimakamkan,” ujarnya.

Sementara itu, banyak orang berpendapat banyaknya korban karena tidak adanya peringatan dini terkait erupsi Gunung Semeru.

Menurut Pakar Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Wahyudi MS menyebut, adanya peningkatan aktivitas gempa letusan sebelum Gunung Semeru erupsi. Ia mengatakan, Semeru adalah gunung api stratovolcano yang paling tinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter. “Sejarah mencatat letusan Semeru sejak 1818 hingga 2021, sudah cukup lama juga sebenarnya,” ujar Wahyudi

Wahyudi menyampaikan, sejak tahun 2012 status aktivitas Gunung Semeru ditetapkan pada level II (Waspada). Pada September 2020 mulai teramati aktivitas berupa kepulan asap putih dan abu-abu setinggi 200-700 meter di puncak Semeru.

Di Oktober 2020 setinggi 200-1000 meter. Kemudian, pada 1 Desember 2020, lanjut Wahyudi, terjadi awan panas sepanjang 2-11 kilometer ke arah Kobokan di lereng tenggara. Wahyudi menuturkan, sejak 90 hari terakhir sebelum erupsi, sudah ada peningkatan aktivitas gempa letusan di Gunung Semeru.

“Kegempaan itu kurang lebih rata-rata di atas 50 kali/hari, bahkan ada yang mencapai 100 kali/sehari,” ucap dia.

Data kegempaan tersebut, kata Wahyudi, sudah bisa menjadi tanda-tanda akan terjadinya erupsi Gunung Semeru.”Ini sebenarnya sudah bisa dijadikan prekursor akan terjadinya erupsi yang lebih besar,” kata dia.

Seismologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ade Anggraini menambahkan gempa letusan menandakan matrial sudah naik kepermukaan.

“Jadi material di permukaan itu sudah kelihatan 90 hari terakhir sebelum 4 Desember kemarin. Jadi kalau kami menganalisis lebih detail maka kami melihat sudah ada penumpukan material di permukaan banyak,” tutur dia.

Warga jadi prioritas

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani meminta pemerintah memprioritaskan penyelamatan warga dalam penanganan bencana erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur.

“Utamakan penyelamatan warga terdampak gunung meletus, terutama untuk warga di sekitar Gunung Semeru yang terjebak di sekitar rumahnya dan belum berhasil menyelamatkan diri,” kata Puan.

Puan mengatakan menyampaikan rasa prihatin atas bencana meletusnya Gunung Semeru. Ia meminta agar pemerintah segera melakukan tanggap darurat. Politikus PDI Perjuangan ini menekankan kepada pemerintah daerah agar mengoptimalkan koordinasi dengan BPBD, TNI/Polri dan berbagai lembaga atau instansi lainnya.

Pemda, kata Puan, juga harus memastikan kebutuhan warga terpenuhi, mulai dari logistik hingga perlengkapan medis. “Pemda pun perlu menyiapkan pengungsian yang nyaman bagi warga, khususnya untuk balita, anak-anak, lansia, serta ibu hamil dan menyusui,” ujar mantan Menko PMK itu.

Puan juga meminta masyarakat selalu waspada dan memperhatikan keselamatan diri serta keluarga. Juga menghindari area-area yang berbahaya dan berisiko.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi BNPB per Sabtu, 4 Desember 2021, kejadian bencana awan panas guguran Gunung Semeru telah berdampak di enam desa yang berada di dua kecamatan di Kabupaten Lumajang. Selain itu, sebaran abu vulkanik telah berdampak di 11 desa/kelurahan di sembilan kecamatan.

Kejadian awan panas guguran Gunung Semeru menyebabkan satu orang warga meninggal dunia, 2 orang hilang, 8-10 orang masih terjebak, 70 orang dibawa ke puskesmas, dan 300 KK mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sementara itu, kerusakan dan kerugian materil masih dalam proses pendataan lebih lanjut. (pis)

ADVERTISEMENT