Warga Keluhkan Air Sungai Alai Keruh, Babinsa & Perangkat Desa Cek TKP

Dibaca: 456 kali
Babinsa Koramil dan Perangkat Desa Cek Air Sungai Alai

SIDAKPOST.ID, TEBO – Tak sabar lagi Warga masyarakat keluhkan kondisi Sungai Alai yang keruh, pasalnya sudah berlangsung cukup lama keruhnya Sungai Alai yang ada dikawasan Desa Rimbo Mulyo Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo.

Dugaan kuat akibat sepak terjangnya para penambang emas tanpa izin (peti) merajalela berdampak aliran Sungai Alai yang melintasi kawasan Rimbo Mulyo sangat keruh airnya, kini warga yang ada didekat bantaran Sungai Alai tak bisa lagi mengkonsumsi Air Sungai Alai, baik untuk mandi maupun untuk mencuci pakaian dan lainnya.

Ironisnya lagi, apabila aktifitas peti dibiarkan terus merajalela dikawasan Sungai Alai, tak pelak lagi kelestarian dan ke asrian Sungai Alai bakal hancur, bahkan nasib anak cucu nanti takkan menemui lagi habitat kehidupan Sungai seperti ikan dan lainnya.

Menindaklanjuti keluhan warga terkait keruhnya Sungai Alai di Rimbo Mulyo, Babinsa Sertu Ishak Koramil 416-07/, Rimbo Bujang Kodim 0416/Bungo Tebo bersama Perangkat desa dan Tokoh masyarakat mengecek menelusuri Alarian Sungai yang melintasi kawasan Rimbo Mulyo.

” Kita mengecek Aliran Sungai Alai dikawasan Rimbo Mulyo benar – benar keruh dan airnya pun tidak bisa lagi dikonsumsi warga yang tinggal dibantaran Sungai, kiranya kondisi ini menjadi perhatian serius pihak terkait maupun pemangku kepentingan, terkait penertiban peti di kawasan Sungai Alai. ” Ungkap Babinsa Sertu Ishak, Jumat (08/10/2021).

Tokoh masyarakat Rimbo Mulyo Sumadi mengatakan, membenarkan keruhnya air Sungai Alai dikawasan Rimbo Mulyo sudah berlangsung cukup lama, hal ini dikeluhkan oleh warga karena air Sungai tersebut tidak bisa dimanfaatkan warga lagi, bahkan warga tidak bisa mendapatkan ikan lagi memancing di Sungai, padahal warga butuh lauk pauk yaitu ikan dari Sungai.

“Keruhnya air sungai Alai di Rimbo Mulyo akibat aktifitas peti di hulu Sungai diluar Rimbo Mulyo, sebagai masyarakat Rimbo Mulyo kami mohon perhatian serius pihak pemerintah, untuk menghentikan aktifitas peti di Aliran Sungai Alai, “harap Tokoh masyarakat Sumadi.

Untuk diketahui, bahwa aktifitas Peti melanggar UU No 4 Tahun 2009 Pasal 158 Tentang pertambangan mineral dan batubara, pelakunya dipidana yaitu 10 tahun penjara paling lama dan denda Rp 10 milyar paling banyak. (asa)

ADVERTISEMENT