Rumah Gedang Tahun 1941, Simpan Sejarah Peradaban Tebo

Dibaca: 2.087 kali

SIDAKPOST.ID, TEBO – Saat awak media menelusuri Hikayat Rumah Gedang yang berdiri pada tahun 1941 yang silam, yang berlokasi di Desa Dusun Baru Kecamatan VII Koto Kabupaten Tebo, disambut oleh M.Saman (60) Ahli waris yang juga mantan Kades Priode 2009 – 2014 Desa Dusun Baru.

M.Saman mengatakan, bahwa semua peninggalan Adat Budaya yang merupakan warisan untuk sekeluarga saat ini masih tersimpan, terawat dengan baik.

Namun sangat di sayangkan tidak adanya perhatian dari pihak pemerintah setempat, baik tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten bahkan Pemerintah Provinsi Jambi.

Semua bukti sejarah dan peninggalan di Rumah Gedang ini, masih terjaga dengan baik secara mandiri oleh pihak keluarga selaku ahli waris, beberapa warisan budaya yang ada seperti jenis Sunting Pengantin Perempuan.

Bahkan sunting ini sudah pernah dibawa ke Jakarta untuk di perlihatkan pada pihak Pemerintah Pusat, namun hanya sebatas dilihat saja tidak ada tindak lanjutnya hingga sekarang ini.

” Untuk Pemerintah daerah (Pemda) Tebo sendiri sudah mengetahui, bahkan istri pak Bupati yang saat ini menjadi anggota DPR RI sudah beberapa kali datang melihat warisan adat budaya sunting pengantin tersebut,” beber M.Saman, kemarin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mail yang juga ahliwaris dan sekaligus Keponaan dari M.Saman, bahwa di Rumah Gedang yang ditempati keluarga besarnya, berdiri sejak tahun 1941 sebelum indonesia merdeka. Bentuk arsistekturnya masih utuh dan terawat dengan baik.

“ Rumah Gedang itu masih terjaga dengan baik , hanya saja karena ukuranya besar dengan lebar 9 m dan Panjang 16 m, kondisi atap dan warna dindingnya sedikit memudar. Maklum biaya perawatan Rumah Gedang yang merupakan Warisan Budaya adat
ini secara mandiri, ” terang Mail.

Diharapkan adanya perhatian semua pihak, sebut Mail, terkait peninggalan warisan Adat Budaya yang saat ini menjadi warisan turun temurun. Jika tidak ada perhatian khusus dari semua pihak, warisan Adat Budaya yang ada hanya menjadi saksi bisu dan dilupakan oleh generasi muda.

“Kita pihak ahliwaris sangat berharap adanya perhatian dari semua pihak khususnya dari Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah, supaya semua peninggalan yang ada di jadikan Cagar Budaya. Sehingga Generasi Muda Tebo tidak kehilangan sejarah Adat budayanya,” pungkasnya. (asa)

ADVERTISEMENT





ADVERTISEMENT