Ngamuknya Gajah Liar, Bupati Tebo Minta Warga Waspada di Batas Hutan

Dibaca: 338 kali
Foto Gajah (ilustrasi)

SIDAKPOST.ID, TEBO – Meninggalnya warga Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, akibat diinjak gajah liar belum lama ini, akhirnya Bupati Tebo dan pihak Konservasi Resort Tebo angkat bicara terkait musibah tersebut.

Kepala Resort Konservasi Wilayah Tebo, Hefa ketika dikonfirmasi sidakpost.id mengatakan, terkait hewan dilindungi seperti gajah apabila warga melihat segera menjauh dan jangan mengambil tindakan sendiri.

“Karena bisa saja sewaktu-waktu Satwa liar itu mengamuk dan melukai manusia. Karena itu, kami menghimbau kepada seluruh warga, bila melihat Satwa liar di hutan jangan menggiring sediri sendiri harus secara kelompok besar kalau tidak jangan,”ujar Hefa, Rabu (5/01) malam.

Lebih jauh dikatakan, sekarang kondisi di lapangan, rumah dan kebun Satwa liar sudah menjadi kebun manusia oleh karena itu, gajah dan manusia memang harus bisa saling hidup berdampingan.

“Sekarang kita tidak bisa bilang siapa yang salah dan yang benar terkait hal itu, karena semua sudah terjadi. Untuk itu semua adalah tanggungjawab, Kita, Kamu dan Kami. Bagaimana cara bisa untuk memenuhi kedua kebutuhannya,” tutupnya.

Sementara Bupati Tebo H Sukandar dikonfirmasi menyebutkan, bila warga kembali melihat Satwa liar maka segera menjauh jangan bertindak sendiri, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Memang sudah sering terjadi konflik antara warga dengan Satwa liar seperti gajah. Untuk itu, bila melihat ada gajah lebih baik menjauh saja agar sesuatu hal yang buruk tidak terjadi,”katanya, Rabu (5/01/2022).

Dikatakan Sukandar pemerintah akan berkoordinasi dengan BKSDA terkait Satwa liar. Karena hewan-hewan satwa itu memang dilindungi oleh negara jadi kalau bertindak secara sendiri melukai satwa tersebut bisa dipidana juga.

“Saya minta kepada warga kalau hendak membuka kebun lakukan dengan cara -cara baik, agar Satwa liar tidak merasa terganggu. Memang di Sumatera hewan gajah paling banyak di wilayah Tebo, karena ada kawasan bukit tiga puluh,” katanya.

Sukandar juga mengingatkan seluruh warga jangan merambah hutan supaya habitat Satwa liar tidak terganggu. Bila itu sudah diganggu maka hewan – hewan liar yang dilindungi bisa melukai orang.

“Disini memang tempat Satwa mencari makan dan berlalu lalang, ketika tempat makan gajah sudah menjadi kebun, tidak menutup kemungkinan gajah kehilangan tempat bernaung dan mencari makan,” kata Sukandar. (Cr3)

ADVERTISEMENT