Di Bungo, Tercatat 39 Kasus Demam Berdarah Dengue

Dibaca: 158 kali
ilustrasi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Demam Berdarah Dengue (DBD) sangat berbahaya jika tidak dapat penanganan lebih lanjut. Kasus demam DBD pun sering dijumpai pada pergantian musim panas ke musim hujan.

Banyak nyamuk yang akan bertelur dikubangan air yang nantinya akan berubah menjadi nyamuk. Berdasarkan data dari Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakir (P2P), data dari Januari hingga Agustus 2018, sebanyak 39 kasus DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Bungo, Safaruddin Matondang mengatakan, semua kasus DBD sudah mendapat tindak lanjut.

“Salah satunya dengan melakukan penyelidikan epidemiologi, melakukan fogging serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk ke tempat-tempat kasus itu terjadi,” kata Kadis.

Bahkan kata Safaruddin, untuk kasus DBD yang paling banyak di wilayah Kecamatan Rimbo Tengah di Puskesmas Rimbo Tengah ada sebanyak 12 kasus.

Lalu di Kecamatan Pasar Muara Bungo atau di puskesmas Muara Bungo I ada satu kasus, Kecamatan Babeko puskesmas Babeko ada satu kasus, di Puskesmas Kuamang Kuning IX Kecamatan Pelepat Ilir ada sembilan kasus.

Sedangkan di Kuamang Jaya ada enam kasus, Rantau Pelayang atau di Pelapat ada dua kasus, Tanah Sepenggal ada dua kasus, dan Puskesmas Air Gemuruh ada sebanyak lima kasus.

“Tahun ini tidak ada kematian karena sudah terpantau dari awal. Kita juga melakukan penyelidikan epidemiologi dan juga sosialisasi dari petugas penanggulangan penyakit. Pihaknya juga melakukan fogging pada daerah-daerah korban yang mengalami DBD.

“Kalau foging itu setelah kita mengetahui kasus disuatu wilayah kita lakukan penyelidikan epidiomologi, dilakukan penyuluhan dilakukan pemberantasan disarang nyamuk,” jelasnya.

Tambahnya, penyemprotan akan dilakukan radius seratus meter di titik tempat pasien tinggal. Safaruddin juga menyebutkan pada tahun ini penderita DBD medapatkan penyakit tersebut dari daerah lain.

“Setelah melakukan penyelidikan epidemiologi, banyak pasien ini sebelumnya tinggal diluar Bungo dan kembali ke Bungo saat menderita DBD tersebut,” kata Safaruddin.

Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat untuk berprilaku hidup sehat untuk mencegah terjadinya DBD. Biasakan melakukan prilaku 3M yaitu, Menutup, menguras dan mengubur.

Tutuplah segala tempat yang bisa menampung air, baik di dalam maupun di luar rumah. Jika tidak diperlukan, tengkurapkan wadah-wadah yang bisa menampung air di luar rumah agar tidak tergenangi air hujan. Nyamuk betina memanfaatkan air yang tergenang sebagai tempat bertelur.

“Kuraslah tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, akuarium, dan vas bunga satu hingga dua kali seminggu. Siklus metamorfosis nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa, berlangsung selama 8-10 hari,” ujarnya.

Dikatakannya, dengan mengosongkan tempat-tempat penampungan air secara berkala, Anda memutus siklus hidup nyamuk. Kuburlah semua objek yang bisa menampung air, seperti kaleng bekas atau wadah plastik.

“Dalam gerakan 3M yang telah diperbaharui – 3M plus, M yang ketiga ini tidak lagi dianjurkan karena menimbulkan polusi tanah. Kini, pemerintah menganjurkan untuk mendaur ulang sampah-sampah anorganik yang bisa menampung air. (zek)

HUT BUNGO






























































ADVERTISEMENT










Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*