Demi Dana BOS, Diduga Kepsek MIN Semerah Gelembungkan Jumlah Siswa

Dibaca: 423 kali

SIDAKPOST.ID, KERINCI – Demi mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), banyak kepala sekolah di Kerinci, yang menggunakan cara ilegal dengan menggelembungkan jumlah para Siswa.

Seperti yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Semerah, Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci. Kepala MIN Semerah, Leli Haryati, diduga melakukan manipulasi jumlah siswa dalam jumlah besar, yang berdampak pada meningkatnya dana BOS.

Namun parahnya lagi, setelah melakukan manipulasi, diduga dana tersebut tidak direalisasikan kepada siswa, namun digunakan untuk kepentingan pribadi. Data yang dihimpun di lapangan, setidaknya ada 45 data siswa yang dimanipulasi oleh kepala sekolah.

Saat ini, MIN Semerah hanya memiliki 92 siswa. Dalam dalam laporannya, kepsek menambah jumlah siswa menjadi 137 orang.Dengan rincian kelas 1A sebanyak 17 orang, kelas 1B sebanyak 17 orang, kelas II sebanyak 23 orang, kelas III sebanyak 20 orang.

Kemudian untuk kelas IV sebanyak 22 orang, dan kelas V sebanyak 18 orang, sedangkan kelas VI dilaporan sebanyak 20 orang.Sementara jumlah murid yang sebenarnya, hanya sebanyak 92 orang saja. Dengan rincian 13 murid di kelas 1A, 8 murid di kelas 1B, dan 13 murid pada kelas II.

Sedangkan di kelas III, hanya terdapat sebanyak 13 murid, kelas IV sebanyak 14 orang murid, sementara di kelas V sebanyak 16 murid, dan kelas VI sebanyak 9 murid.

Perbuatan Kepala Sekolah, sebenarnya nyaris saja ketahuan saat dilakukan pemeriksaan oleh Irjen pada Februari lalu, yang turun ke lapangan melakukan pengecekan.

Namun untuk mengelabui petugas, kepsek diduga memobilisasi anak-anak dari kampung halamannya, untuk memenuhi kuota siswa.

“Benar, saat ada pemeriksaan Irjen, kepsek membawa anak-anak dari kampungnya. Mobilisasi siswa ilegal ini, malah menggunakan mobil dinas Kepala Kantor Kementerian Agama Kerinci, yang saat itu sedang umroh,” terang sumber, Selasa (2/4).

Setelah adanya penambahan jumlah murid secara ilegal ini, jumlah dana BOS yang diterima oleh MIN Semerah meningkat menjadi Rp 109 juta. Seharusnya, MIN Semerah hanya mendapatkan dana BOS sekitar Rp. 74 juta saja.

“Parahnya, dana itu tidak dilaporkan kepsek kepada guru-guru. Hanya dikelola sendiri dan tidak diberikan kepada murid,” tambahnya.

Akibatnya, guru-guru kewalahan saat melakukan acara. Misalnya ketika melaksanakan ujian, tidak ada dana dari sekolah. Wali murid juga protes, karena biasanya anak mereka mendapat seragam gratis dari sekolah.

Demikian juga untuk pengadaan perlengkapan sekolah, sampai saat ini tidak dilakukan oleh kepsek, padahal sudah mendapatkan dana yang cukup besar.

“Sapu saja tidak ada di sekolah. Sekarang masih menggunakan sapu lidi peninggalan kepsek lama. Demikian juga dengan papan informasi di sekolah, masih menggunakan papan lama yang masih terpampang nama kepsek lama,”bebernya.

Di samping itu, beberapa bulan lalu guru-guru di MIN Semerah, sempat mogok mengajar selama satu minggu, untuk memprotes kebijakan kepsek tersebut.

Tidak direalisasikannya dana BOS, juga sudah lama membuat geram masyarakat setempat, yang juga merupakan wali murid.

Warga berharap, kepsek transparan dalam mengelola dana, apalagi dana yang diperuntukkan bagi siswa. “Masa untuk pramuka saja murid meminta sumbangan kepada warga. Padahal dana sekolah kan ada,” ungkap Mualim, warga setempat.

Kepala MIN semerah, Leli Haryati, saat dikonfirmasi wartawan, tidak bersedia berkomentar menanggapi dugaan manipulasi murid dan penggelapan dana BOS.

Leli berdalih, sedang sibuk mengurus data. “Soal itu saya belum bisa komentar sekarang. Saya sedang di ruangan Mapenda mengurus data,”jawabnya.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Kerinci, Hardiman, sampai saat berita ini diturunkan, belum berhasil dikonfirmasi. Pesan singkat yang dikirim ke handpone nya, tidak mendapatkan jawaban. (Iy)

ADVERTISEMENT


























ADVERTISEMENT






ADVERTISEMENT