Hotman Paris, Kaum Miskin Tak Kuasa Melawan Konglomerat

Dibaca: 116 kali

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Berada di posisi puncak sebagai pengacara handal, tidak menjadikan Hotman Paris tinggi hati. Ia pun kini membuka layanan konsultasi hukum untuk masyarakat umum, dengan konsep tempat nongkrong. Minggu (13/5).

Bertempat di Kedai dengan nama Kopi Jhoni yang berada di Jalan Kopyor Raya, Blok Q1 No. 1, RT.16/RW.19, East Kelapa Gading, Hotman Paris menjadikan posko konsultasi warga yang merasa tidak mendapatkan kepastian hukum.

“Ini moral support, membangunkan Indonesia yang sangat parah kepastian hukum dan mahal keadilan. Terutama untuk kaum wanita, dan juga kaum miskin yang tidak kuasa melawan konglomerat,” ujar Hotman Paris, usai bertemu jajaran Pengurus MPW Pemuda Pancasila DKI Jakarta.

Bahkan lanjutnya, banyak kasus yang sudah menang di Mahkamah Agung namun tidak bisa dieksekusi karena yang kalah adalah konglomerat atau pejabat.

“Pejabat pun di sini tidak menghargai putusan pengadilan. Kalau tidak kita mulai kapan lagi,” ucapnya.

Menurut Hotman, sejak kedai ini dibuka banyak sekali masyarakat yang berkonsultasi dan ingin dibantu masalah hukum. Bahkan setiap harinya bisa 20 warga yang berkonsultasi.

“Banyak yang konsultasi tiap hari, apalagi Sabtu Minggu. Bisa 20 kasus tiap hari. Kalau saya layani semua gak kuat juga. Layanan konsultasi hukum secara gratis, banyak yang saya viral kan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, ada warga dari Mamuju yang uangnya dipinjam oleh pejabat di sana dengan cap pemerintah. Tapi saat dilaporkan ke Polisi, tidak berjalan.

“Saya viralkan, Kapoldanya langsung tindak lanjuti,” kata Hotman yang telah berkarir 30 tahun sebagai pengacara ini.

Dengan adanya tempat konsultasi ini, ia berharap bisa membantu masyarakat mendapatkan kepastian hukum dan keadilan.

Lebih besar lagi, agar Pemerintah Indonesia dapat menjalankan hukum dengan benar. “Ya ini juga sebagai ladang ibadah, minimum kurangin dosaku,” tuturnya.

Hotman berpesan kepada masyarakat agar jangan takut mempertahankan hak hukumnya. Sebab jika tidak, maka akan tertindas.

“Berani mempertahankan hak, jangan diam, berani bersuara. Karena Trias Politica di Indonesia tidak berjalan. Legislatif dan eksekutif itu menyatu, tidak ada saling kontrol,” jelasnya.

Ia pun ingin agar para pengacara muda bisa mengikuti kesuksesannya. Dan itu hanya bisa diraih dengan kerja keras dan ketekunan.

“Apa yang saya dapat sekarang bukan hasil mimpi satu malam. Saya 10 tahun jadi anak buah berbagai pengacara bule, 10 tahun jadi bos berbagai pengacara bule. Dan di sini empat tahun dengan pengacara 700 orang. Jadi perlu jam terbang yang tinggi dan pengalaman yang banyak. Tanpa itu tidak mungkin bisa mencapai kesuksesan yang besar,” pesannya. (red)

ADVERTISEMENT






ADVERTISEMENT

Komentar

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*